Cross-Written Community

Bloody Inspirational Community To Turn Your Life Upside Down
It is currently Thu Mar 11, 2010 10:10 am

All times are UTC + 7 hours


Forum rules


About God, Jesus, Bible, and Church



Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 
Author Message
 Post subject: “Theologi” Sukses, Penderitaan, dan Theologi Kenikmatan
PostPosted: Fri Dec 12, 2008 7:41 am 
Offline
 E-mail  Profile

Joined: Mon Jan 21, 2008 11:42 am
Posts: 15
“Theologi” Sukses, Penderitaan, dan Theologi Kenikmatan

oleh: Ev. Ronald A. H. Oroh, M.Div.





“Theologi” sukses menjadi satu fenomena tersendiri yang sangat mempengaruhi Kekristenan sejak abad ke 20. Hampir tidak ada orang Kristen yang tidak dipengaruhi oleh “theologi” sukses. Bahkan yang menolak theologi inipun sering kali tanpa sadar ataupun secara sadar sebenarnya mempraktikkan dan mengakui theologi ini. Tapi harus menolaknya, karena merasa theologi ini bertentangan dengan doktrin dan pengajaran di gereja/alirannya. Sebenarnya lucu, menolak dan melawan, tapi mempraktikkan dan mempergunakan nilai-nilai dari “theologi” sukses untuk menilai banyak hal.

Kapan sebenarnya “theologi” sukses muncul? Kalau mau diteliti lebih jauh, sebenarnya dimulai sejak manusia jatuh dosa. Dalam keberdosaan, maka manusia mengalami kesulitan dalam keluarga, pekerjaan, sakit-penyakit dan berbagai masalah dan musibah. Maka kesuksesan, adalah kalau bisa lepas dari kesulitan, bebas dari permasalahan keluarga, sakit-penyakit dan kemiskinan. Jadi, sebenarnya dasar dari “theologi” sukses adalah respon dari kesulitan karena manusia jatuh dalam dosa dan ingin lepas dari semua kesulitan itu. Sebenarnya semua manusia dan agama apa pun adalah penganut “theologi” sukses.

Dari kecil, orang tua dari agama dan kepercayaan apa pun sudah mengajarkan anak-anaknya, bagaimana caranya agar hidup tanpa masalah, menghindari sakit dan bisa kaya. Ukuran kesuksesan seseorang dinilai dari berapa banyak gelar, jabatan, uang, dan materi yang dimilikinya. Orang cacat, sakit-sakitan, orang miskin, pekerja-pekerja rendahan tidak ada yang menghargai. Kecuali, kalau tidak bisa mendapatkan hal-hal yang berharga, baru mulai memikirkan ukuran kesuksesan yang lain.

Dalam Kekristenan, hanya dengan menambahkan Tuhan di dalamnya, bahwa Tuhan menginginkan kita semua tidak pernah sakit, kaya dan tidak bermasalah, tidak ada penderitaan, dan semuanya bisa diminta kepada Tuhan. Menjadikan theologi ini bertumbuh dengan subur, karena kebutuhan akan kenikmatan yang semakin lama semakin tinggi, serta budaya konsumerisme, semakin membuat “theologi” sukses bertumubuh dengan pesat di dalam Kekristenan.

Masalahnya, apa betul Alkitab mengajarkan “theologi” sukses? Pengajar-pengajar “theologi” sukses, biasanya dalam pengajarannya mengutip bagian2 firman Tuhan dari Perjanjian Lama. Mengapa? Karena Perjanjian Lama banyak bicara tentang berkat secara fisik dan kutuk. Sedangkan Perjanjian Baru tidak lagi bicara berkat-berkat secara materi, tetapi secara rohani. Mengapa kelihatannya PL banyak bicara berkat secara fisik? Karena bangsa Israel belum bisa mengerti berkat secara keseluruhan. Maka dimulai dengan secara fisik dulu untuk mengerti berkat spiritual. Nah semuanya itu sebenarnya digenapkan dalam Kristus. Berkat-berkat secara fisik dan rohani itu hadir dalam Kristus.

Kalau kita betul-betul memeperhatikan dan membandingkan keseluruhan Alkitab, maka akan mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa seseorang yang percaya selama hidup di dunia pasti akan bebas dari kemiskinan, sakit-penyakit, masalah rumah tangga dan masalah relasi, serta lepas dari penderitaan dan penganiayaan. Justru sebaliknya, Kristus datang ke dunia, hidup dalam penderitaan dan mati ditinggalkan pengikut-pengikut-Nya. Sesuaikah dengan “theologi” sukses? Maka sebenarnya yang realistis adalah theologi penderitaan.

Sejak manusia jatuh dalam dosa, maka manusia akan terus mengalami penderitaan sampai mati. Siapa pun dia, pasti akan mengalami saat sakit dan harus mati, permasalahan keluarga, dan justru orang-orang yang betul-betul menjalankan kehendak Allah, biasanya hidupnya menderita. Karena dunia yang berdosa ini tidak menginginkan ada yang melakukan kehendak Allah. Orang-orang yang kelihatan sukses dan memiliki banyak hal, kebanyakan (meskipun tidak semua) adalah orang-orang yang kompromi, mengikuti arus dunia dan hanya memanfaatkan Tuhan untuk dirinya. Maka, hidup ini hanyalah menghadapi satu penderitaan dan penderitaan yang lain. Orang-orang yang kelihatan sukses dan kaya, juga memiliki kesulitan dan permasalahan yang besar.Sehingga penderitaan tidak bisa dilepaskan dari hidup ini sampai mati. Itu sebabnya, theologi Penderitaan adalah theologi yang lebih realistis dibandingkan dengan “theologi” sukses.

Meskipun demikian, theologi yang paling realistis adalah theologi Kenikmatan. Sejak dari penciptaan, yang ada hanyalah kenikmatan. Bebas dari dosa dan penderitaan dan Tuhan sediakan semua kenikmatan. Tuhan memberikan segala kenikmatan yang membuat manusia pertama bisa memuliakan dan menikmati Tuhan. Sayang sekali, sejak manusia jatuh dalam dosa maka kenikmatan pemberian Tuhan sepertinya menghilang dan manusia mencari kenikmatan yang berbeda dan sementara. Tetapi, bagi orang-orang pilihan yang percaya kepada Kristus, kenikmatan yang merupakan anugerah Tuhan dipulihkan kembali dan terus bertumbuh sebagai persiapan untuk kekekalan, sampai selama-lamanya.

Theologi Kenikmatan tidak membuang penderitaan dalam kesementaraan ini. Bahkan biasanya penderitaan yang membuat banyak orang percaya bisa melihat sumber kenikmatan yang sejati dan menikmatinya. Dan penderitaan dan kekurangan menjadi pelajaran yang berharga bagaimana menikmati semua pemberian Tuhan dalam sehat dan kelimpahan. Meskipun demikian theologi kenikmatan, menyadari bahwa penderitaan hanya diperlukan dalam kesementaraan ini dan bukan untuk kekekalan. Karena dari penciptaan, Tuhan tidak menciptakan manusia untuk menderita selama-lamanya, tapi justru mempersiapkan manusia untuk kenikmatan sampai selama-lamanya. Masalahnya manusia tidak bisa mengerti kalau langsung menikmati sampai selama-lamanya, maka ada proses yang dipakai oleh Tuhan untuk membentuk manusia, dan Tuhan mengijinkan penderitaan yang dipakai sebagai alat dalam proses ini.

Jadi, mari kita melihat kenikmatan yang sejati sebagai anugerah Tuhan dan kita betul-betul bisa menikmatinya, sekalipun dunia mengatakan kita tidak sukses, menderita dan banyak masalah, tapi justru kita bisa lebih menikmati segala sesuatu pemberian Tuhan baik dalam kekurangan atau kelimpahan, sehat atau sakit, sampai maut memisahkan kita dari penderitaan dan kita bisa menikmati segala kelimpahan yang disediakan Tuhan. Dari sekarang kita harus belajar menikmati, sebagai persiapan untuk kekekalan di mana kita bisa menikmati semua pemberian Tuhan dengan bebas, dan lebih khusus lagi, sumber berkat itu sendiri yang harus kita nikmati.

What is the chief end of man?
Man’s chief end is to glorify God, and to ENJOY him forever
Westminster Shorter Catechism



Sumber:
http://roielministry.org/2007/03/theologi-sukses-penderitaan-dan-theologi.html


Profil Ev. Ronald A. H. Oroh:
Ev. Ronald Arthur Horald Oroh, S.Si., M.Div. lahir pada tanggal 8 Juni 1972 di Manado. Beliau menyelesaikan studi Master of Divinity (M.Div.) di Institut Reformed, Jakarta.


Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.


Top
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron
Powered by phpBB © 2000, 2002, 2005, 2007 phpBB Group  
Design By Poker Bandits | Tweaked by Saxman