Cross-Written Community

Bloody Inspirational Community To Turn Your Life Upside Down
It is currently Sat Mar 20, 2010 1:23 pm

All times are UTC + 7 hours


Forum rules


About TV, Movies, Music, Literatures, and Fashion



Post new topic Reply to topic  [ 19 posts ] 
Author Message
 Post subject: SP Movie Review
PostPosted: Fri Feb 08, 2008 11:13 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
DENIAS – Senandung di Atas Awan



Image
...belajar bisa dimana saja...


Film Indonesia terakhir yang saya tonton sebelum Denias ini, adalah "GIE" dan saya tidak bisa mengatakan kalau Gie itu film bagus, malah saya lebih suka kemasan Film Dokumenter "SOE HOK GIE" kemasan Metro TV yang justru lebih enak dilihat dan informatif. Di Film "GIE" saya banyak sekali menemukan 'music latar' yang tidak pada tempatnya. Berbeda dengan Denias ini yang menyajikan kualitas gambar yang bagus, tatanan musik yang bagus yang ditata oleh Dian HP. Musicnya memperkaya sajian gambar dan kisahnya itu sendiri, karena musik latarnya ini cukup memberikan dorongan emosi, kejenakaan anak-anak juga semangat seorang anak akan menggapai cita-citanya.

Di film "DENIAS – Senandung di Atas Awan" ini saya bisa mengapresiasinya, menontonnya dengan nikmat, terharu, juga bisa merasakan makna ceritanya. Sayang sekali film yang bagus ini harus kalah di ajang kompetisi nasional FFI-2006 sebagai Film terbaik. Syukur masih ada ajang lain yang bisa mengapresiasi film ini dengan penghargaan-penghargaan sebagai "Best Movie" Jiffest 2006, juga meraih "Humanity Award" Biffest 2006, dan sebagai "Film Etnik Terpuji" FBB 2007.

Film Denias dikemas sederhana, dengan bahasa sederhana, berceritera tentang kisah nyata seorang anak yang sangat ingin bersekolah. Denias (Albert Fakdawer) anak seorang petani di daerah pelosok di pulau Papua di desa Arwanop. Denias kehilangan ibunya yang meninggal akibat kebakaran yang menimpa di rumahnya. Pada malam sebelum kematian ibunya, ia sempat berpesan kepada Denias "Sekolahlah Denias. Kalau kamu pintar gunung pun takut sama kamu". Ini adalah kata kunci dari film ini, kata yang sederhana tapi berbobot dan filosofis.

Dan ada dua tokoh lagi yang membuat Denias semakin bertekat akan keinginannya untuk bersekolah yaitu figur Pak Guru (Mathias Muchus) dan seorang TNI yang menjadi sahabatnya 'Maleo' (Ari Sihasale) yang menjadi 'guru sementara' ketika Pak Guru harus pulang ke Jawa. Di desa Arwanop itu, Maleo dan sempat mengajarinya pengetahuan akan kepulauan Indonesia. Maleo membuatkan 'puzzle' peta kepulauan Indonesia untuk Denias. Tentang peta ini Anda pasti dibuat tersenyum karena kejenakaannya, humornya bagus, tidak jayus.

Satu pesan penting dari Maleo yang diingat Denias adalah sekolah bisa dilakukan di mana saja. Maleo juga mengatakan, di balik gunung ada sekolah dengan fasilitas yang bisa dijadikan tempat untuk Denias meneruskan sekolahnya. Dengan fasilitas ala-kadarnya Maleo mengajar anak-anak daerah terpencil ini dengan pengetahuan-pengatahuan dasar. Namun sayang persahabatannya dengan Maleo harus berakhir karena Maleo ditugaskan ke tempat lain.

Ayah Denias tidak begitu memahami keinginan anaknya untuk bersekolah, ia pikir cukuplah Denias menjadi seperti dirinya. Namun pesan sang ibu selalu mengiang-ngiang bahwa "gunung takut sama orang pintar". Maka, Denias pun akhirnya bertekat pergi dari desanya, melintasi gunung mencapai kota untuk mana ia dapat bersekolah. Disinilah kisah petualangan Denias mengarungi hutan dan sungai-sungai. Denias yang penuh harapan melakukan perjalanannya dengan gembira dengan bernyanyi/ bersenandung seperti judul filmnya.

Akhirnya Denias menemukan sebuah sekolah SD seperti yang pernah diceritakan Maleo, dan disitu ia bertemu dengan anak gelandangan yang benama Enos. Denias pun berteman dengan Enos dan berbagi cerita, ia menyatakan keinginannya untuk masuk ke sekolah itu. Enos mengatakan itu sesuatu yang tidak mungkin karena Denias tidak mempunyai orang yang bisa membiayainya masuk ke sekolah itu. Lama kelamaan ia memberanikan diri bicara dengan salah satu guru untuk menyatakan keinginannya. Ia diarahkan untuk menemui Ibu Gembala (Marcella Zalianty), melihat kegigihan Denias dan juga kepandaiannya, ibu Gembala mau memperjuangkannya untuk bisa sekolah sekaligus diterima di asrama sekolah yang dikelola oleh pengurus asrama yang diperankan oleh Nia Zulkarnaen. Dua aktris cantik ini cukup bagus aktingnya, terlihat telah lumayan serius mempelajari 'aksen papua'. Cuma mungkin wajah mereka 'terlalu cantik atau terlalu metropolis' untuk main di film ini. Tapi nggak apa, secara keseluruhan film ini bagus bahkan mungkin yang paling bagus dari film-film yang sudah dibuat. Yang paling penting, tokoh Denias yang diperankan Albert Fakdawer (pemenang AFI Junior), ia bisa mewakili figur seorang anak cerdas, jenaka dan penuh semangat dalam diri tokoh yang bernama Denias ini.

Salut buat Ari Sihasale (produser) sebagai putra Papua, menyajikan keindahan panorama Papua serta singgungan budayanya bagi semua orang Indonesia yang kurang tahu apa yang terjadi di salam satu bagian daerah Indonesia ini. Salut juga buat John De Rantau (Sutradara), yang telah mengemas film ini dengan baik. Kita sudah cukup kenyang dan jemu dengan sinetron-sinetron dan film-film nasional yang tidak mendidik dan dibuat secara asal. Di film Denias ini, saya bangga masih ada putra Indonesia yang dapat memproduksi film nasional yang berbobot dan edukatif. Dan tentu saja film ini menjadi hiburan yang menarik bagi Anda dan keluarga di rumah. VCD nya baru saja diproduksi, akan mudah dicari di toko-toko.

Indonesia perlu membuat film-film berbobot dan mendidik seperti "DENIAS – Senandung di Atas Awan".
Bravo Denias!


Blessings,
Bagus Pramono
May 26, 2007

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Fri Feb 08, 2008 12:07 pm 
Offline
Forum Admin
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 2:42 am
Posts: 520
Location: Smurf Village
wah asyik neh bisa ngikutin movie reviewnya bung SP...

_________________
Image


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Fri Feb 08, 2008 12:50 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Thu Jan 17, 2008 2:02 pm
Posts: 427
Location: Jakarta
wah.. udah nonton, filemnya diputer pas ada pemutaran filem di gereja gw.

_________________
F1do's Planet
www.f1do.tk
Image


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Fri Feb 08, 2008 1:07 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 4:17 pm
Posts: 370
Denias bagus film nya.... Icha paling terharu bercampur sebel saat Denias pergi main ama teman2nya sampe akhirnya mamanya kebakar dan mati.. hikzz... Denias bandel.

_________________
Smurfette was created by Gargamel to destroy the Smurfs.After a successful operation of "plastic smurfery", Papa Smurf transformed the ugly and unhappy Smurfette into the blond bombshell she is today. His magic changed her nature and her hair color. Smurfette loves flowers and the color pink.


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Fri Feb 08, 2008 5:11 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Thu Jan 17, 2008 2:02 pm
Posts: 427
Location: Jakarta
icha jg bandel :p

_________________
F1do's Planet
www.f1do.tk
Image


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Sun Feb 10, 2008 9:56 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
Atonement (2007)


Directed by Joe Wright; written by Christopher Hampton, based on the novel by Ian McEwan; director of photography, Seamus McGarvey; edited by Paul Tothill; music by Dario Marianelli.


Image


Cast :
Saoirse Ronan/ Romola Garai/ Vanessa Redgrave ... Briony Tallis
James McAvoy ... Robbie Turner
Keira Knightley ... Cecilia Tallis


Saya suka mengamati orang, bagaimana ia bicara, duduk, jalan, berdiri,cara berjabat-tangan, memahami sorotan matanya dll. Dan mengamati orang yang paling "aman" adalah dengan menonton film. Tentunya film yang mempunyai bobot nilai-nilai kehidupan, bukan sekedar entertainment. Salah satu film baru, yang menyajikan kisah dan emosi kejiwaan manusia dan dikemas cantik dan menyentuh adalah film Atonement (2007) yang disutradarai oleh Joe Wright. Ia tergolong sutradara yang sangat muda, tetapi film-nya yang pertama yaitu Pride & Prejudice (2005) sudah mendapat tempat dalam persaingan Oscar dan mendapat beberapa nominasi. Jika Anda pernah menonton Pride & Prejudice garapannya ini adalah film adaptasi dari novel karya Jane Austen yang terbaik diantara beberapa versi cerita Pride & Prejudice yang pernah dibuat.

Film Atonement diadaptasi dari novel karya Ian McEwan oleh penulis scenario Christopher Hampton. Bercerita tentang seorang gadis berumur 13 tahun, Briony Tallis anak dari seorang kaya dan tinggal di sebuah "istana" yang besar, sejak kecil ia gemar menulis drama dan cerita. Briony mempunyai seorang kakak yang cantik Cecilia (Keira Knightley) yang kira-kira berumur 18 tahun. Sebagaimana keluarga kaya tentu mempunyai banyak pelayan. Salah satu pengurus rumahnya, Grace Turner mempunyai anak lelaki yang bernama Robbie (James McAvoy). Briony di usianya yang masih 13 tahun itu "naksir" dengan Robbie dan tenggelam dalam fantasi dan kasmaran ala kanak-kanak. Tetapi rupanya sang kakak Cecilia pun naksir Robbie. Briony gadis yang naïf dan sangat muda itu belum mengerti gejolak jiwanya, yang ada hanya rasa iri, membenci, dendam dan marah mengapa Robbie lebih memilih sang kakak.

Di film ini diberikan beberapa adegan yang mengundang "prejudice"/ salah intrepretasi dari seorang gadis naïf yang sedang berperang dengan jiwanya yang dibakar oleh api cemburu. Ia ingin melakukan "revenge" dan mencari jalan keluar untuk meluapkan cemburunya. Ini sungguh bahaya sekali, ketika seorang gadis yang masih sangat muda belum mengerti apa itu cinta, dan apa itu gairah seksual. Karena sebenarnya Briony belum siap untuk itu. Dan akhirnya kecemburuan ini berakibat fatal ketika terjadi suatu peristiwa dimana saudara sepupu Briony dan Cecilia, yaitu Lola "diperkosa" seseorang di kebun rumahnya. Briony yang "marah" itu tampil sebagai saksi dan menunjuk bahwa Robbie lah pelakunya, walaupun Lola tahu bukan Robbie yang melakukan, namun dalam suatu kasus "somebody must be blamed", dan menunjuk anak seorang pelayan akan dengan cepat menyelesaikan kasusnya. Ia yakin melihat sesuatu yang dia anggap mengerti namun sebenarnya ia tidak mengerti. Ditambah Briony memberikan bukti tuduhan yang lain dengan menunjuk surat Robbie kepada Cecilia yang rada vulgar, sehingga hanya Robbie yang layak ditunjuk sebagai tersangka dan kemudian dipenjara.

Cecilia yakin bukan Robbie pelakunya, sejak peristiwa penangkapan kepada Robbie, Cecilia lari dari rumahnya dan tidak mau berhubungan lagi dengan keluarganya.Sebenarnya Briony pun tidak yakin benar bahwa Robbie pelakunya, namun ia tetap melancarkan tuduhannya dengan dasar kecemburuan itu tadi. Di masa di Perang Dunia II, Inggris mengirim pasukannya ke berbagai negara di Eropa, dan Robbie ikut dikirim sebagai tentara di Perancis. Cecilia punkemudian menjadi perawat sukarela di rumah sakit. Rupanya hubungan Cecilia dan Robbie tetap terjalin, dan terekam dalam surat-surat mereka. Namun nasip menentukan mereka masing-masing tewas dalam tugas di tahun yang sama 1940.

Briony sejak peristiwa masa kecilnya itu tidak dapat melepas rasa bersalahnya, apalagi ketika mendapati Cecilia dan Robbie tewas di masa perang itu. Kenyataan ini juga membuat dua sejoli itu tidak pernah mendapat kesempatan untuk hidup bersama melanjutkan kisah cinta mereka. Dan rasa bersalah itu membebani Briony sepanjang hidup. Rasa bersalah itu semakin terasa semakin berat karena tidak ada lagi kesempatan baginya untuk meminta maaf kepada Cecilia dan Robbie. Akhirnya Briony memutusan membuat suatu "atonement" yaitu dengan menghasilkan suatu karya fiksi dalam sebuah novel, yang menceritakan kisah cinta Cecilia dan Robbie yang kemudian dapat hidup bahagia bersama, sebuah kehidupan yang layak diterima oleh dua orang yang saling mencintai. Novel itu ia tulis sebagai penebusan dan karenanya ia dapat berdamai dengan keadaan dan rasa bersalah yang selama ini menghantuinya.

Film ini memberikan suatu pesan, bahwa penting bagi setiap orang melakukan "atonement", suatu tindakan untuk melakukan tebusan atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Rasa bersalah tidak dapat dibawa berlarut-larut hanya dengan menyesal dalam hati, ini akan membat orang menjadi depresi. Perasaan bersalah tidak akan pernah berakhir kalau seseorang itu tidak pernah melakukan "atonement" dalam suatu tindakan yang nyata. Dengan "atonement" akan ada perdamaian.

Film ini cantik sekali, disutradarai dengan cerdas, hati-hati dan detail. Background PD II membuat film ini lebih menyentuh dan dramatis sekali. Sebagaimana dalam Pride & Prejudice, gambar-gambar dalam film Atonement ini pun juga sangat indah. Film ini dibuka dengan sajian music, kombinasi orchestra dan detakan mesin ketik kuno sungguh dramatis! Dario… you did it again! What a wonderful music.


Blessings,
Bagus Pramono
February 9, 2008

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Mon Feb 11, 2008 8:05 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Thu Jan 17, 2008 2:02 pm
Posts: 427
Location: Jakarta
bro sp,
kayaknya ini ga diputer di bioskop

_________________
F1do's Planet
www.f1do.tk
Image


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Tue Feb 12, 2008 7:44 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
biasa bioskop di indonesia sering telat ;)

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Tue Feb 12, 2008 2:01 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
TURTLES CAN FLY
Lakposhtha hâm parvaz mikonand (2004)



Image


Written and directed by Bhaman Ghobadi

Cast :
Agrin : Avaz Latif
Satellite : Soran Ebrahim
Hengov : Hiresh Feysal Rahman
Rega : Abdol Rahman Karim
Pasheo : Sadaam Hossein Feysal
Hangao : Hiresh Feysal Rahman
Shirko : Ajil Zibari


Image satellite & crew



REVIEW :

TURTLES CAN FLY merupakan film pertama tentang perang di Iraq masa Invasi Amerika dibawah Presiden George W. Bush. Bolehlah dibilang saya adalah pecinta film-film Iran, sebab saya menyukai film-film yang natural dan bermuatan filosofi. Dan seperti film Iran lainnya ‘Turtles Can Fly’ juga menyajikan pengajaran kehidupan secara folosofis tanpa ada kesan menggurui penontonnya. Nah ini yang jarang sekali saya dapat dari film nasional kita, apalagi sinetron.

‘Turtles Can Fly’ menyajikan paradoks : film anak-anak yang penuh humor, manisnya adegan jenaka anak-anak, sekaligus film perang yang paling mengerikan.
Dalam film ini memang tidak ada adegan hunjaman peluru menembus batok kepala, seperti pada film Saving Private Ryan, atau semburan darah, potongan tubuh seperti di film Kingdom of Heaven, atau adegan sadisme yang lazim dalam film-film perang dengan tekhnologi mutakhir. Sebaliknya ‘Turtles Can Fly’ adalah sebuah film sederhana, namun secara psikologis ini memberikan dampak psikologis yang paling dalam. Meski Badan sensor film memberikan label genre ‘Parental Guide’, namun film ini bukan film anak-anak, melainkan seharusnya film dewasa.

‘Turtles Can Fly’ menyajikan peperangan yang sedemikian kuatnya berdampak pada ‘innocent victims of conflict’. Ya, peperangan paling banyak menyengsarakan korban tak berdosa, terutama anak-anak. Dan secara sempurna film ini menyajikan akibat perang ‘dimata anak-anak’. Sehingga saat kita menonton, secara tidak sadar kita akan digiring oleh sang sutradara ‘berpikir dan berlogika secara anak-anak pula’. Inilah keistimewaan yang dimiliki film-film Iran yang sudah menjadi satu ciri khas, seperti dalam film Children of Heaven, Baran, Kandahar, Color of Paradise, Osama, dll.

Dimulai dengan adegan gadis kecil menjatuhkan diri dari sebuah tebing yang curam, film ini bercerita dengan latar belakang sebuah desa ‘Iraqi Kurdistan’ di perbatasan Iran dan Turkey. Penduduk desa yang dalam suasana perang lebih mementingkan berita ketimbang sajian hiburan di TV. Untuk itulah semua penduduk desa berusaha memasang antena yang paling kuat menangkap gelombang siaran berita di televisi.
Dengan set tahun 2003 dibawah invasi Amerika, film ini menggambarkan terobsesinya orang-orang dengan berita Internasional yang didapat dari Satelit untuk mendapatkan informasi rencana Amerika kedepan dalam ‘menyelamatkan’ Iraq.

Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun atau tepatnya ‘de-facto leader’ bagi sekumpulan anak-anak yatim-piatu di camp pengungsi, ia dipanggil dengan nama ‘Satellite’ karena terbiasa menerima job pemasangan antena TV, sekaligus menjadi ‘translater berita’ bagi penduduk desa disana. Kemudian Satellite juga menerima job pembersihan ‘ranjau darat’ di daerah itu. Satellite merasa terganggu dengan kehadiran seorang anak laki-laki cacat, kedua tangannya putus, yang juga menerima job pembersihan ranjau yang belum menjadi ‘anggota serikat pekerja anak-anak’ dibawah pimpinan Satellite. Anak cacat itu bernama Henkov yang juga adalah korban ranjau darat, sehingga kedua tangannya putus. Meski cacat Henkov rupanya ahli sekali menjinakkan ranjau.

Dilain pihak Satellite naksir berat dengan adik perempuan Henkov, Agrin yang misterius dan cantik. Kemudian Satellite juga menemukan kemampuan prophetic Henkov, yang kemudian disadarinya bahwa kemampuan supranaturalnya lebih akurat ketimbang propagandanya CNN.

Henkov dimata orang lain mempunyai 2 orang adik, yang perempuan Agrin dan adik laki-laki yang buta, masih berumur 1tahun lebih, Rega. Kemanapun, mereka selalu bertiga. Dan si kecil Rega selalu dalam gendongan Agrin, sesekali digendong oleh Henkov yang meski ‘tanpa tangan’ namun cukup cekatan menggendong si kecil.

Agrin gadis kecil mungkin umurnya baru 12tahun, yang terjebak oleh ganasnya perang, kedua orang tuanya terbunuh akibat perang saudara di Iraq, dalam saat yang bersamaan ia mengalami tragedi yang lain, diperkosa beramai-ramai oleh tentara, sehingga pada usia yang sangat muda ia mempunyai anak. Oleh pengungsi lain anak dalam gendongannya itu dikira adiknya. Kehidupan serba sulit, mengungsi dengan anak dan saudara laki-laki yang cacat. Sudah berkali-kali Agrin mencoba bunuh diri karena tidak mampu menahan beban berat hidup. Namun setiap kali dia ingat kakaknya Henkov yang cacat, ia berpikir mampukah Henkov merawat rega anaknya? Dan ia mengurungkan niat itu. Adegan ketiga 'anak kecil' itu kerap memancing rasa haru.

Rupanya perang zaman sekarang juga masih menggunakan jalur-jalur propaganda atau bahasa halusnya ‘informasi’ :
"We are here to take away your sorrows!".
"Those against us are our enemies. We will make this country a paradise. We are the best!"

Itulah bunyi leaflets yang dijatuhkan dari helikopter pasukan Amerika. Entah dalam kejadian nyata isi leaflets bunyinya begitu atau tidak, namun dengan melihat gaya American dan sikap Bush yang sedemikian, mungkin saja isi leaflets-nya begitu. Dan betapa senangnya masyarakat suku Kurdi menerima kabar bahwa keberadan mereka ‘dibela’ dengan akhir Saddam Hussein diturunkan dari tahta kepresidenannya. Pesan-pesan itu membawa harapan perang segera berakhir.

Kabar baik dari pasukan ‘hero’ itu tidak ada dampaknya ibu-muda Agrin, ia tetap tertekan, terlebih ketika ia memikirkan bagaimana nanti Rega tumbuh menjadi besar, apa pandangan orang terhadapnya. Berkali-kali Agrin mengemukakan rencananya agar meninggalkan Rega, dengan harapan bisa ‘diambil/dipelihara orang lain’, namun Henkov kakaknya selalu melarang, karena Henkov sangat mengasihi anak itu.

Agrin yang kehilangan masa kanak-kanak, Agrin yang memerlukan bimbingan orang-tua, ia tak mampu membereskan beban dan masalah hidupnya. Sengsara hidupnya membuyarkan semua ‘natur baik’ yang mungkin dimilikinya. Ia menjadi pembenci anaknya itu, ia pemurung, dan putus asa. Suasana kontradiksi, disaat masyarakat Kurdi memulai lembar baru dan menyambut jatuhnya Saddam, dengan suka-ria mendapatkan souvenir potongan patung-Saddam di ibukota yang dijatuhkan tentara Amerika. Agrin membunuh anaknya dan kemudian ia bunuh-diri. Adegan ini menyentak sekali, membuat para penonton tidak tahan dengan tragedi kematian keduanya yang ditampilkan. Akhir kisah itu sungguh mendendangkan nyanyian yang paling memilukan dan menyayat hati.

Bhaman Ghobadi’s Turtles Can Fly, cukup menggambarkan kejadian sejarah secara instant yang merupakan one ‘of the best films ever made about children in wartime’.



Bravo!



Blessings,
BP
December 7, 2005

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Tue Feb 12, 2008 5:03 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Thu Jan 17, 2008 2:02 pm
Posts: 427
Location: Jakarta
ini filem mana lagi, SP...
waduh filem dari dunia lain, judulnya aja asing gitu.
ga beredar di indo kaleee

_________________
F1do's Planet
www.f1do.tk
Image


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Tue Feb 12, 2008 6:05 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
TURTLES CAN FLY VCD nya ada di DiscTara

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Tue Feb 12, 2008 10:18 pm 
Offline
Forum Admin
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 2:42 am
Posts: 520
Location: Smurf Village
wah, gue juga demen film Iran....jadi pengen nonton juga neh...padahal atonement aja lom nemu...

_________________
Image


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Fri Feb 15, 2008 10:56 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
Film Iran yang lain :

OSAMA


Image

Cast :
Osama: Marina Golbahari
Espandi: Arif Herati
Mother: Zubaida Sahar
Mullah: Khwaja Nader
Grandmother: Hamida Refah
Writer/Director/Editor : Siddiq Barmak

Image


REVIEW :

Pemenang Best Foreign Language Golden Globe ini dibuka dengan kutipan pidato dari Nelson Mandela “I cannot forget, but I can forgive”. Sebuah ungkapan dengan arti yang sangat tetapi sangat applikatif untuk memulai era baru di Negara Afganistan. OSAMA mengangkat kisah yang “terrific” sekaligus “terrifying”, seperti bercerita tentang kehidupan tentang abad-abad lalu walaupun diambil dari kisah yang terjadi di dunia yang sudah modern ini. OSAMA adalah film pertama yang dibuat di Afganistan setelah kejatuhan Rezim Taliban. Apa yang kita lihat disana adalah kekuasaan tangan besi Taliban telah merenggut hak-hak perempuan yang menyiratkan bahwa siapapun yang terlahir sebagai perempuan pada lingkungan itu adalah sebuah “kutukan”.

Film ini bukanlah sebuah dokumentasi tentang teroris, bukan pula berceritera tentang Osama bin Laden. OSAMA mengangkat kisah nyata tentang kemalangan dan drama nyata seorang gadis muda tak bernama yang masih berusia 12 tahun yang menyamar sebagai seorang anak lelaki untuk menyambung hidupnya dan keluarganya. Sebagaimana kita ketahui semua perempuan pada rezim taliban tempatnya adalah di rumah. Kalau mereka berpergian keluar rumah harus disertai dengan suami atau paling tidak kerabat laki-laki. Kalau tidak, perempuan yang berjalan sendirian itu akan dianggap seperti “barang tak bertuan”, bisa dengan segera diambil/ditangkap oleh Taliban dan masuk ke penjara perempuan. Taliban melarang seorang perempuan berbicara dengan laki-laki yang bukan suaminya, dan banyak lagi larangan-larangan lainnya dengan atas nama agama. Suatu hal yang sangat kontradiktif dimana hukum menempatkan perempuan di rumah, perempuan tidak boleh terlihat wajah dan lekuk tubuhnya. Tetapi apabila mereka tertangkap mereka akan santapan para Mullah dan agen-agen Taliban.

Film yang berlatar-belakang kebangkitan Rezim Taliban di Afganistan, dan dibuka dengan sebuah adegan demo kaum perempuan ber-burqa biru, menuntut agar mereka diberi hak untuk berkerja mencari nafkah untuk keluarganya. Perempuan-perempuan itu kebanyakan adalah para janda yang suaminya tewas dalam perang dan kerusuhan. Kala itupun kaum perempuan sudah mengadakan perlawanan atas penindasan gender dengan dalih perintah agama oleh Rezim Taliban, mereka menyatakan “we are not political, we are hungry, give us work!" tetapi Rezim Taliban terlalu kuat dibanding sekumpulan perempuan pendemo itu, mereka membubarkan demonstrasi itu, dan menangkapi mereka. Nasip perempuan yang tertangkap itu tentu tak terbayangkan bagaimana. Disamping banyak yang mendapat hukum rajam, justru sebagian besar mereka dijadikan “mempelai” ini jelas merupakan pelanggaran susila, bukan?!. Taliban sebenarnya tidak hanya melanggar hak-hak kaum perempuan, tetapi mereka juga melanggar hak-hak kaum laki-laki. Contohnya agen Taliban bisa menangkap seorang laki-laki hanya karena dia berpakaian bersih dan bercukur. Tetapi tentu saja sekarang dengan berakhirnya Rezim Taliban di Afganistan mereka mulai mempunyai kebebasan untuk berbicara, menonton TV, mendengarkan Radio, yang tenntunya hal-hal tersebut adalah kebutuhan orang-orang secara keseluruhan (laki-laki dan perempuan).

Perempuan tidak boleh berkarir, kalau melanggar, tentu akan ditangkap. Ibu dari gadis kecil tokoh sentral dalam film ini adalah seorang dokter tetapi dengan berkuasanya Taliban, dia tidak bisa lagi berkarir, maka dia selalu menyamar ketika menjalankan pekerjaannya. Bahaya akan selalu mengancam terutama ketika dia harus berpergian untuk bekerja, karena di keluarga mereka sudah tidak ada lagi laki-laki yang hidup, semuanya sudah tewas karena perang. Taliban ada dimana-mana tak kenal waktu, semakin hari semakin susah untuk mendapatkan kesempatan untuk bekerja, sedangkan kalau si ibu tidak bekerja, artinya mereka tidak makan. Maka ibu ini dengan keputus-asaannya mendandani anak gadisnya ini menjadi seorang anak laki-laki agar bisa mengantarnya bekerja sebagai dokter. Gadis itu berkata “kalau Taliban tahu, mereka pasti akan membunuhku” tetapi neneknya memberikan semangat bahwa dia harus berani. Satu-satunya pasiennya telah meninggal sedangkan Rumah Sakit juga sudah tutup. Kesempatan mencari nafkah sebagai dokter habis sudah. Harapan kini tinggal satu-satunya pada anak gadis ini, dia harus keluar rumah sendirian dan bekerja di sebuah toko milik teman dari almarhum ayahnya. Sebab hanya dengan cara inilah yang memungkinkan gadis itu bersama-sama dengan ibu dan neneknya mendapatkan sepotong roti untuk menyambung hidup.

Nasip baik tidak bertahan lama, karena agen Taliban datang untuk recruitment anak-anak laki-laki untuk dididik di sekolah lokal madarasah, disitu mereka juga dididik menjadi prajurit. Dalam penyamarannya sebagai anak laki-laki, gadis kecil inipun terjaring dan harus masuk kedalam kamp pendidikan dan pelatihan militer. Di sekolah ini si gadis bertemu dengan seorang anak gelandangan bernama Espandi yang juga masuk pada pelatihan itu, Espandi sebenarnya sejak awal sudah mengetahui bahwa gadis itu menyamar sebagai laki-laki, kemudian dia memanggil gadis itu dengan nama laki-laki “Osama” (dari nama Osama Bin Laden) disinilah dia pertama kali dipanggil dengan nama itu. Di kamp ini ia menjadi lelaki, diperlakukan sebagai lelaki. Disini pula ia diajari mandi junub (ritual pembersihan bagi orang dewasa Muslim). Ketakutan Osama menjadi-jadi karena jika mengikuti pelajaran itu, maka terbukalah kedoknya bahwa dia adalah perempuan.

Kejadian tak berlangsung mulus, teman-teman Osama mulai mencurigai bahwa Osama adalah perempuan, dan mengolok-olok “kamu kayak cewek” dan terjadilah pertikaian diantara para murid di kamp itu, kemudian Osama dihukum ditarik-gantung ke dalam sebuah sumur. Sahabatnya Espandi yang selama ini merupakan tumpuhan harapannya untuk bisa menyelamatkannya, tidak bisa berbuat banyak. Dalam ketakutannya ini membuat dirinya mengalami kekacauan secara hormonal, yang mengakibatkan tubuh Osama secara premature mengalami menstruasi. Maka terbukalah kedok itu.

Perbuatan menyamar sebagai seorang laki-laki adalah kriminal, melanggar peraturan agama buatan rezim Taliban, pelanggar harus mati dengan cara dirajam atau pancung. Osama tidak akan bisa lepas dari jeratan hukuman itu. Dalam sebuah sidang pengadilan Taliban, ternyata Osama mendapat pengampunan, namun ini bukan berarti dia lepas sama sekali dari sebuah penderitaan, Osama menjadi properti Taliban dan harus menjadi mempelai dari salah seorang Mullah yang sudah berumur 70tahun yang juga adalah pengajar dari sekolah madarasah tadi yang pernah mengajari dia mandi junub. Si gadis kecil ini mau tidak mau harus berpisah dengan ibu dan neneknya yang merupakan tempat yang paling nyaman, tidak ada lagi dongeng indah tentang pelangi dari sang Nenek, semuanya sudah masa lalu, kini selamanya dia akan tinggal di "rumah" yang lebih mirip dengan penjara dan sewaktu-waktu harus siap melayani kedatangan Mullah itu.

Bagian akhir film ini ditutup dengan adegan Mullah itu melakukan ritual “Mandi Junub” dengan masuk ke dalam satu tong air hangat. Adegan ini adalah sebuah pemandangan yang agak perlu waktu menterjemahkannya, setelah beberapa saat baru saya mengerti ternyata ada “satu maksud” yang ingin disampaikan dalam adegan itu, ternyata bagi Taliban memerawani gadis kecil bukanlah hal yang haram asalkan setelahnya melakukan ritual mandi junub, hmmm.
It conclude the little girl "ends up" life at the old bastard.

Film ini mengangkat tema kekerasan secara tersirat saja, bahkan tidak banyak menggambarkan adegan kekejaman agen-agen Taliban misalnya membunuhi dan menyiksa orang-orang. Tidak ada sama sekali adegan pembantaian, dan pembunuhan masal. Film ini hanya menggunakan pendekatan-pendekatan terhadap hal-hal yang terjadi akibat tindakan Taliban. Dan hal inipun bisa kita rasakan cukup untuk menggambarkan ketakutan dan teror yang dialami oleh rakyat Afganistan. Dalam keseluruhan adegan kita bisa melihat bahwa seolah-olah agen-agen Taliban itu “omnipresent/ maha hadir”. Sikap mereka sudah bisa menggambarkan bahwa mereka itu bengis dan kejam walaupun tidak ada adegan kekejaman/ obral darah, kekerasan dan sadisme. Namun tanpa itupun ketakutan dan kekerasan bisa kita rasakan. Kita seolah-olah diajak merasakan bersama-sama mereka dalam suasana takut itu. Kita melihat suatu kontradiksi, rezim yang teokratis yang berlandaskan agama secara keras justru melanggar nilai-nilai kemanusiaan, pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah “apakah mereka ini bener-bener percaya Tuhan?, “apakah mereka ini humanis?”, “siapakah sebenarnya sesama mereka itu?”. Mendengar gadis itu berteriak dan menangis “Taliban akan membunuhku....” itu sudah cukup membawa kita untuk menggambarkan kebiadaban Taliban walaupun tanpa adegan sadistis.


Siddiq Barmak adalah pria kelahiran Afganistan dan mendapat pendidikan film di Moscow, tinggal beberapa lama di Pakistan. Film ini diproses/ diedit di Iran. “Penting sekali bila film-film kami menceritakan secara gamblang tentang apa yang telah terjadi pada masyarakat Afganistan, saya percaya film mampu mengubah sesuatu. Film itu mempunyai kekuatan. 85% masyarakat Afganistan masih buta huruf, mereka tidak bisa membaca koran dan buku, jadi kekuatan gambar visual akan menjadi media yang kuat untuk membantu mereka untuk mendapatkan “Visual Connection”. Demikian pendapat Barmak sebagai writer/director/editor, ketika menjelaskan misinya melalui sebuah karya film.

Saya dibuat berkali-kali takjub dengan film-film Iran, pertama kali film Iran yang saya tonton adalah “Children of Heaven”. Amazing! Ternyata masyarakat Iran sangat berbobot dalam apresiasi seni. Kemudian “Color of Paradise”, juga mengangkat kisah kemanusiaan. Film yang sejenis dengan OSAMA adalah “Kandahar” & “Baran” juga merupakan film-film yang saya anggap “berkelas”. Sesuatu yang sangat jarang sekali saya temui pada film-film Indonesia. Film-film itu yang kebanyakan sifatnya sinematik minimalis namun sangat filosofis dengan tanpa ada kesan menggurui. Menonton film-film seperti itu bermanfaat mengajar dan mengajak kita untuk lebih menghargai hidup. Saya terkesan sekali bahwa masyarakat dari negara teokrasi seperti Iran pun mengkritisi kebiadaban Rezim Taliban. Kritik mereka melalui film-film diatas lebih objective ketimbang film-film produksi Barat atau Hollywood. Film mereka lebih natural karena lebih banyak memakai masyarakat awam dan bukan aktris/aktor proffesional. Jadi kesannya film-film itu seperti film dokumenter, atau istilah yang sedang populer sekarang adalah sebuah “reality show”.


REFLEKSI :

Dalam keadaan seperti yang dikisahkan dalam film tersebut, mungkinkah Injil masih merupakan “kabar baik”?. Kenyataannya dalam keadaan seperti itu seorang yang menurut dan taat pada aturan itupun juga terancam nyawanya, mereka hidup dalam ketakutan, hak hidup dan hak menikmati hidup mereka terinjak-injak. Bagaimanakah mungkin mengabarkan Injil jika sanksi bagi setiap orang yang berpindah agama adalah “hukuman mati”?. Mungkinkah kita masih setia sebagai umat Kristen jika Kekristenan dilarang secara Hukum Konstitusional?. Dengan tidak bermaksud menakut-nakuti atau berpikiran prejudice, saya hanya membayangkan “what if”. Saya membaca beberapa point perjuangan Kelompok Mujahidin di Yogyakarta yang telah menyusun Qanun Asasy Negara Islam Indonesia, yang jelas mengarah kepada talibanisme. Film yang bagus seperti OSAMA ini, layak dicermati dan tentu akan memungkinkan kita untuk lebih mampu memberikan penilaian yang benar terhadap sebuah keadaan……..



I'm thrilled from the first time I watched it. It still does..........



Blessings,
BP
September 30, 2004

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Fri Feb 15, 2008 11:32 am 
Offline
User avatar
 E-mail  YIM  Profile

Joined: Thu Jan 10, 2008 8:13 pm
Posts: 11
film iran memang menarik, nuansanya beda....


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Mon Feb 18, 2008 1:17 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
Movie Review :

END OF THE SPEAR



Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (Matius 28:19)


Image


Ada film yang DVD nya baru dirilis di tahun 2006 ini, judulnya "END OF THE SPEAR", sebuah kisah nyata, dan sebuah film tentang misi Kekristenan yang paling cantik yang pernah dibuat, jarang sekali ada film tentang misi Amanat Agung, apalagi yang dikemas secara professional dan serius sebagaimana film sekuler dan/ atau film-film kolosal dengan latar belakang sejarah misalnya, Kingdom of Heaven, Passion of the Christ, Conquest of Paradise, dll. Gambar dan musiknya sangat cantik, menikmati sinematografinya seolah-olah kita sedang menonton documentary dari The National Geography, sangat indah!.

Film yang disutradarai oleh John Hanon dan Score dari Ronald Owen ini menceritakan tentang kehidupan beberapa misionaris yang sungguh mencintai Tuhan melebihi hidup. Tahun 1950-an Seorang lelaki muda yang bersemangat, Nate Saint membawa istri, anak-anak, dan adik perempuannya Rachel pindah dari kehidupan nyaman menuju ke Shell Mera, Ecuador, dengan satu tujuan "mengabarkan kabar baik tentang Yesus" kepada orang-orang yang sama sekali belum mengenal Injil. Disitu Pelayanan Nate Saint dibantu oleh beberapa rekan dalam misi ini. Awal pelayanan mereka adalah menjangkau suku yang bernama "Quechua". Namun Nate tidak puas sampai di lingkup suku ini saja, ia bertekat menjangkau pula suku lain yang lebih terbelakang.

Nate mempunyai seorang anak lelaki yang kira-kira masih berumur 7tahun kala itu, ia bernama Steve Saint. Steve kecil suka sekali membuat pekerjaan tangan, ia bersama ayahnya membuat replika pesawat yang dikendarai Nate dari kayu. Pada film ini Steve Saint sendiri yang menjadi stunt terbang dengan pesawat Cessna 172 untuk peran ayahnya, Nate. Dari kisah yang ditulis Steve Saint "Beyond the Gates" inilah film "End of the Spear" ini dibuat.

Di hutan Amazon, di Ecuador terdapat suku primitive yang bernama "WAODANI". Waodani dalam bahasa Quechua artinya adalah "savage" (biadab/ kejam). Suku Waodani dikenal sangat ganas, bukan saja mereka suka membunuh orang lain, tetapi antar sesama suku mereka sendiri juga sangat sering sekali terjadi perang antar kelompok, saling bunuh-membunuh, unsur saling balas-dendam sulit dipisahkan dari masing-masing kelompok di suku Waodani. Dalam film ini kehidupan suku Waodani digambarkan dengan cermat dan masuk budaya dan kebiasaannya, mulai mereka makan, tidur, berperang, menangkap ikan, memburu, menaklukkan jaguar, anaconda, dll. Kita benar-benar dibawa masuk untuk mengerti kehidupan mereka yang primitive.

Hal tersebut tidak membuat Nate Saint dkk, menyerah, ia dengan sabar menyusuri hutan itu dengan pesawat terbang kecil, untuk mencari letak dimana kira-kira suku Waodani tinggal. Dari sekian lama pencarian itu akhirnya pada January 1956, ia menemukan lokasi tinggal dari 'suku Waodani', dengan suka-cita ia menceritakan kepada rekannya bahwa ia akan masuk untuk melakukan misi kepada suku ini. Keganasan suku Waodani tidak membuat Nate dan rekan-rekannya takut, mereka mengatakan keganasan mereka adalah 'penjara' yang dibuatnya sendiri, kita harus datang untuk menembus pintu-pintu penjara itu, dan membebaskan orang-orang yang didalamnya.

Sebelum masuk dan berencana mendarat di daerah Waodani, Nate dan seorang rekannya Jim, melakukan 'contact' dengan mengirimkan beberapa souvenir yang diturunkan dengan tali dari pesawat kepada suku Waodani, rupanya komunikasi dengan 'souvenir' ini mendapat tanggapan, salah seorang kepala dari suku Waodani yang bernama Mincayani, memberikan balasan, ia memberikan souvernir 'seekor burung nuri' dimasukkan kedalam keranjang yang diturunkan dari pesawat Nate. Tak lama itu pula, Nate menemukan 'lapangan' di sisi sungai ditengah-tengah hutan itu, yang kira-kira bisa dijadikan run-way pesawat. Dengan isyarat ini Nate membulatkan tekat bersama rekan-rekannya berencana mendarat di perkampungan Waodani dengan pesawat kecil jenis Cessna itu.

Kepergian Nate menuju ke lokasi tinggal dari suku Waodani membuat Steve kecil sangat kawatir, ia bertanya kepada ayahnya apa yang akan kau perbuat jika Waodani hendak membunuhmu? Apakau kamu akan menembak mereka? Nate, ayahnya menjawab pertanyaan anaknya dengan sangat mengharukan sekali "Son, we can't shoot the Waodani, they're not ready for Heaven, but we are!". Segera Steve kecil memahami maksud ayahnya, bahwa kemungkinan ia tidak bertemu ayahnya lagi.

Nate, bersama ke-4 rekan lainnya benar-benar mendarat di perkampungan suku Waodani di tengah-tengah hutan untuk melakukan 'contact' langsung dengan suku tertinggal ini. Betapa sukacitanya ke-5 misionaris ini diterima dengan baik oleh suku Waodani, tapi sayang, kejadian ini tidak berlangsung lama, karena kemudian terjadi 'misunderstanding' akibat hasutan dari salah seorang suku Waodani yang mengatakan bahwa 'para bule' ini sebenarnya datang untuk membunuh orang-orang Waodani. Memang sulit untuk dipahami maksud kedatangan 5 misionaris ini oleh masyarakat tertinggal ini, Waodani tidak bisa membedakan, yang mana misionaris yang punya misi damai, dan yang mana pula para pemburu bersenjata. Bagi Waodani, orang-orang pendatang itu sama-sama bule, dimata mereka semuanya sama. Dimasa lalu, hal yang sama juga pernah terjadi di negeri kita bukan?, disatu sisi, ada bule penjajah, di sisi lain ada bule misionaris.

Hasutan dari salah seorang Waodani, berakibat fatal, dan menyulut kemarahan Mincayani, ia dengan segera bersama-sama kelompoknya membunuhi ke-5 misionaris yang tidak mengerti mengapa mereka tiba-tiba diserang secara brutal. Nate, pada detik akhir kematiannya sempat mengucapkan kalimat dalam bahasa Waodani : "I'm your sincere friend", mendengar ucapan ini Mincayani menjadi gundah, bagaimana bisa seorang yang sudah ia tusuk dengan tombak, yang semestinya marah padanya, justru mengatakan kalimat seperti itu diakhir ajalnya?. Namun kegundahan ini ia simpan sendiri. Ia kemudian menemukan foto keluarga Nate dan foto Steve kecil, dan beberapa souvenir lain diantaranya 'replika pesawat itu yang terbuat dari kayu' dan ia menyimpannya.

Setelah sekian hari tidak ada 'contact' maka datanglah regu pencari, dan ternyata benar mereka menemukan bangkai pesawat yang sudah tercabik-cabik akibat dirusak oleh Waodani, dan…. tentu jasad ke-5 misionaris itu. Ditemukan pula dokumentasi, foto-foto dan film yang dibuat oleh para martir itu. Kabar kematian ini jelas membuat shock dan kesedihan yang mendalam dari keluarga dan rekan-rekan. Kedua orang janda para martir itu dan anak-anaknya tentu saja sedih. Tetapi para janda misionaris dan Rachel, adik Nate, itu justru bertekat menjadi penerus jalan misi yang sudah dibuka oleh ke 5 martir itu.

Dengan dibantu oleh perempuan muda asal suku Waodani yang bernama Dayumae, yang sejak kecil tinggal bersama misionaris, Dua orang Janda dan Rachel, bersama anak-anak mereka yang masih kecil-kecil termasuk Steve, masuk ke hutan ke tempat suku Waodani tinggal. Keadaan mereka yang bergender 'perempuan' dan beberapa anak kecil, lebih dianggap 'aman' dan akhirnya diterima oleh kalangan suku Waodani. Meski demikian untuk masuk ke tengah-tengah kehidupan masyarakat Waodani, bukanlah hal yang mudah, ada banyak syak wasangka/ prejudice dari suku Waodani. Namun ada seorang yang bisa melihat dan memahami kerelaan para perempuan ini, seorang Waodani yang bernama Kimo, ia membantu perempuan-perempuan itu, bahkan membuatkan sebuah gubuk bagi mereka. Dengan hati berani, rela dan kasih, para perempuan itu tinggal bersama diantara para pembunuh suami mereka, demi Injil.

Namun, Mincayani tetap mengeraskan hatinya, ia tetap menjaga jarak terhadap para misionaris itu, karena perasaan 'guilty' dan lain-lain yang berkecamuk di benaknya. Awal pertemuannya dengan Steve kecil, Mincayani sangat tersentak, mungkin ia teringat dengan foto steve yang tertempel di pesawat Nate. Menurut tradisi Waodani, anak lelaki dari seorang yang terbunuh, akan membalas kematian ayahnya. Mincayani semakin menjauhi Steve, atas kepercayaan itu, di lain pihak ia juga tidak mempunyai hati untuk membunuh anak itu sebagai tindakan menjaga diri kalau-kalau anak ini menjadi besar akan membalas dendam.

Para misionaris perempuan itu dengan segera melakukan pelayanan kesehatan, dan pemberian pendidikan sederhana kepada suku Waodani. Tak ada dendam, karena para perempuan yang cinta Tuhan itu telah memahami dan sadar betul, bahwa nyawa menjadi taruhan demi kelebaran Kerajaan Allah. Keberadaan kelompok misionaris perempuan itu, dirasakan manfaatnya oleh suku Waodani, terutama saat terjadi wabah 'pneumonia'. Mereka dengan tak kenal lelah melayani orang-orang yang sakit, mendatangkan obat-obatan, memberikan pengobatan dan merawat. Begitulah seterusnya. Pelayanan misi tidak selalu harus diawali dengan rentetan ayat-ayat Alkitab dan khotbah-khotbah yang diucapkan, namun atas perbuatan kasih yang tampak dan terasa itulah, suku Waodani dapat melihat Tuhan yang sunguh-sungguh ada dalam kehidupan para saksi-saksi Kristus itu. Dan suatu hasil besar dituai, bahwa pelayanan kasih, dan teladan kasih yang ditampakkan menularkan benih-benih kasih diantara Waodani, dan kasih itu telah mengakhiri cycle balas-dendam antar kelompok didalam suku Waodani, yang saling bunuh-membunuh di sepanjang sejarah Waodani.

Tiba saatnya bagi Steve untuk kembali ke Amerika, untuk melanjutkan study-nya sesekali ia mengunjungi Rachel di Ecuador di hutan tempat suku Waodani tinggal. Setelah dewasa dan menikah, tahun 1994 ia kembali lagi ke Ecuador, menguburkan jasad Rachel, bibinya, yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Waodani yang sekarang lebih maju dan berpendidikan. Rachel mewasiatkan agar Steve meneruskan pelayanannya di antara suku Waodani, namun Steve yang dewasa, yang sudah tidak terbiasa dengan kehidupan 'dalam keterbelakangan' agaknya ragu menerima tugas itu. Lalu, Kimo, dan Mincayani yang sudah menjadi 'anak Tuhan' memberikan dia dorongan untuk menerima wasiat Rachel. Di saat itu pula, untuk pertama kalinya Mincayani memberikan pengakuan bahwa dialah yang membunuh ayahnya, Nate. Ia juga masih menyimpan foto dan souvenir pesawat dari kayu buatan Nate dan Steve kecil dahulu. Mincayani menunjukkannya kepada Steve dengan menangis menyesali perbuatannya dulu. Dan ternyata, kasih telah menutup segalanya, tak ada lagi marah, dendam-pun sirna. Steve memandang karya Allah dalam kehidupan Mincayani, dalam penyesalannya akan kejahatannya masa lalu, telah membawa manusia jahat ini menjadi orang yang paling setia kepada Tuhan. Ia bukan hanya menjadi kepala suku Waodani, ia juga menjadi saudara, bapak, dan kakek yang penuh kasih bagi masyarakat Waodani.

Ketika kasih itu berbicara, ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Selanjutnya, di tahun 1995 Steve menjalani kehidupan bersama dengan pembunuh ayahnya itu, mereka ada bersama-sama dalam satu pelayanan, hingga kini mereka terus melakukan kesaksian dengan perbuatan kasih kepada orang-orang, masyarakat suku pedalaman Waodani dan sekitarnya.

Hampir tak ada atribut/ simbol-simbol Kekristenan di film ini, tidak ada tanda salib, gedung gereja ataupun penunjukkan Alkitab dan pengucapan ayat-ayat Alkitab. Namun dari tema KASIH dalam film ini telah memberikan pengajaran tanpa kesan menggurui. Kasih yang jelas tampak terwujud membuat kita mengerti, bahwa itulah Kekristenan yang sebenarnya.


Haleluyah!



Blessings in Christ.
Bagus Pramono
August 28, 2006.

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Tue Feb 26, 2008 5:48 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
SarapanPagi wrote:
Atonement (2007)

Film ini cantik sekali, disutradarai dengan cerdas, hati-hati dan detail. Background PD II membuat film ini lebih menyentuh dan dramatis sekali. Sebagaimana dalam Pride & Prejudice, gambar-gambar dalam film Atonement ini pun juga sangat indah. Film ini dibuka dengan sajian music, kombinasi orchestra dan detakan mesin ketik kuno sungguh dramatis! Dario… you did it again! What a wonderful music.


Blessings,
BP
February 9, 2008


He he, bener kan Dario Marianelli dapet Oscar untuk Best Original Score di film Atonement, Bravo!

Image


Satu lagi prediksi aku yg cocok : Aktris Perancis Marion Cotillard (La Vie en Rose), amazing performance, indeed!
Edith Piaf bangkit dari kubur!

Image



Daniel Day-Lewish & Javier Bardem.... juga menang!

Pemenang Aktor dan Aktris di Oscar tahun ini sesuai seleraku, jarang2 nich ;)
http://oscar.com/oscarnight/winners/index

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Wed Feb 27, 2008 8:41 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Thu Jan 17, 2008 2:02 pm
Posts: 427
Location: Jakarta
man, review donk buat film yg dapat oscar itu
apa sih judulnya old men no country gitu, gw lupa

_________________
F1do's Planet
www.f1do.tk
Image


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Wed Feb 27, 2008 9:54 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
belum nonton Boss, masih cari film-nya, ngebet sih pengen nonton Javier Bardem. sbg aktor Spain, aku bilang aktingnya lebih keren daripada Banderas.
Nonton dech GOYA GHOST.

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: SP Movie Review
PostPosted: Fri Mar 28, 2008 7:25 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
Movie Review :
AUGUST RUSH (2007)




Image


August Rush adalah sebuah film drama bercerita tentang "Mozart, the child prodigy zaman sekarang", yang terpisah dari kedua orangtuanya dan tinggal di sebuah panti asuhan dengan penuh harapan bahwa suatu saat orang-tuanya akan menemukannya. Meski merupakan film yang sifatnya mystically romantic dan penuh dengan sentuhan fairy-tales element, film ini adalah sebuah film keluarga yang baik ditonton.

August Rush bukan hanya film drama, tapi sekaligus film musikal yang musiknya ditata sangat bagus dan menampilkan music dengan berbagai jenis, mulai dari classic, jazz, rock, soul, techno, latin dll., membuat film ini kaya dan imaginative ketika sound dan musiknya itu masuk ke telinga kita. Macam-macam jenis music yang ditampilkan, menunjukkan bahwa semua jenis music itu indah dan semuanya layak mendapat apresiasi.

Di Film August Rush, Anda tidak hanya disuguhi cerita yang bagus, original, tetapi juga sajian music experimental yang baik ditonton untuk para musisi dan pecinta music. Bagaimana sebuah gitar dimainkan bagai sebuah perkusi, dan juga menampilkan guitar tapping technique yang pasti bakal membuat para pemain guitar berdecak kagum. Anda juga menikmati drums loops mengimitasi bunyi-bunyian kereta dan hiruk-pikuk apapun yang ada di sebuah kota yang sibuk. Kita juga dapat mendengar suara Jonathan Rhys Meyers, aha rupanya dia juga pandai bernyanyi, plus suara yang punya karakter. Menjadi seorang penyanyi tenar bukan sekedar perlu modal suara bagus, tetapi perlu juga menampilkan suaranya itu in the unique way.

Film ini dibuka dengan narasi yang diucapkan dengan bagus oleh aktor cilik, yang sudah cukup banyak berakting di film-film besar, Freddie Highmore, yang berperan sebagai Evan Taylor/ August Rush :


    Listen, can you hear it?
    The music, I can hear it every where
    In the wind, in the air, in the light, it's all around us
    All you have to do is to open yourself up, all you have to do is listen

    Where I've grown up, they tried to stop me from hearing the music
    But when I'm alone, it builds up from inside me
    And I think if I could learn how to play it
    They might hear me, they would know I was theirs and find me

    Sometimes the world tries to knock it out of you
    But, I believe in music the way that some people believe in fairy tales
    I like to imagine that what I hear came from my mother and father
    Maybe the notes I hear are the same ones they heard the night they met
    Maybe that's how they'll find me
    I believe that once upon the time long ago
    They heard the music and followed it…


Evan Taylor (Freddie Highmore), adalah seorang anak yang lahir diluar rencana dari pasangan musisi, pemain cello yang cantik, Lyla Novacek (Keri Russell) dan penyanyi dari sebuah rock band asal Irlandia, Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers). Evan adalah hasil dari pertemuan mereka semalam di San Francisco, dan karena nasip, mereka terpisah. Dalam keadaan hamil, Lyla mendapat kecelakaan. Ayah Lyla yang merasa anak gadisnya belum siap berkeluarga, maka ia memakai kesempatan ini untuk mengelabuhinya bahwa bayi yang dikandungnya itu mati, dan menyerahkan bayi Evan ini untuk diadopsi.

Di dalam panti-asuhan, seperti anak-anak yang lainnya, Evan adalah anak yang mendambakan kehadiran orang-tua. Bedanya, ia mencari jejak orang-tuanya dengan music, ketika ada saat dia hendak dikirimkan kepada orang-tua yang hendak mengadopsi anak oleh seorang Social Service worker, Richard Jeffries (Terrence Howard, yang berkarakter simpatik di film ini). Namun, Evan mendadak hilang di tengah keramaian kota New York. Bakat Evan ditemukan oleh seorang preman jalanan yang membina anak-anak pengamen, Maxwell 'Wizard' Wallace (Robin Williams), ia mengatakan kepada Evan "You got to love music more than you love food. More than life. More than yourself!". Oleh Wizard, Evan diberi nama professional "August Rush", sebuah nama yang diambil secara random dari sebuah tulisan di body sebuah truck yang sedang lewat.

Ketika ada suatu kejadian, polisi menangkapi para gelandangan anak-anak, Evan lari dan nasip membawa Evan ke sebuah gereja, di dalam gereja itu Evan melihat seorang gadis kecil yang bernama Hope (Jamia Simone Nash) yang menyanyi dengan sangat bagus bersama anggota koor gereja itu. Kemudian mereka saling kenal, dan Hope mengajari Evan mengenal notasi music dan piano. Dengan bakat alam yang luar biasa, Evan mampu memainkan piano, menulis notasi music dan memainkan organ klais yang terdapat di gereja itu, sang pendeta melihat bakat Evan ini dan mengirimkannya ke sebuah sekolah music bergengsi di New York Juilliard School. Di sinilah Maestro cilik ini dibina menjadi seorang musisi sebenarnya.

Sementara itu, Lyla sang ibu yang tinggal di kota Chicago, akhirnya mendapat pengakuan dari ayahnya bahwa bayi yang dilahirkan Lyla dahulu sebenarnya tidak mati. Maka, Lyla bergegas kembali ke New York untuk mencari anaknya. Lyla bertemu Mr. Jeffries dan mendapat kabar bahwa anaknya telah hilang entah kemana, Lyla memutuskan tinggal di New York dan kembali bergabung dengan The New York Philharmonic sambil melakukan pencarian anaknya.

Di lain pihak, sang ayah, Louis Connelly, semenjak pertemuannya dengan Lyla 11 tahun yang lalu tak henti-hentinya mencari jejak pujaan hatinya dan membuat ia tetap tinggal di San Francisco, ia tidak pernah menyadari kalau ia sudah menjadi ayah. Kemudian, ia menemukan alamat Lyla di Chicago, dan mendapati kabar yang salah dan mengira bahwa Lyla sudah menikah. Melihat kenyataan ini Louis enggan kembali ke San Francisco, dan ia memilih New York dan kemudian memutuskan kembali bergabung dengan abangnya dalam Rock Band, sebagai lead vocal dan guitarist di band itu.

Evan yang telah menjadi seorang composser karena pendidikannya di Juilliard School, atas kemampuannya yang luar biasa ini, ia diberi kesempatan untuk menampilkan karyanya dalam sebuah symphony orchestra yang akan ditampilkan di Central Park di kota New York itu. Namun kesempatan ini hampir tak terlaksana karena ganguan dari Wizard yang mengklaim bahwa dia adalah ayah dari Evan, perbuatannya ini didasari karena ia ingin "make money" dari bakat musisi cilik ini.

Di sebuah taman kota di New York Louis bertemu dengan Evan, Louis mengagumi bakat music Evan, mereka bercakap-cakap dan bermain guitar bersama, namun mereka tidak mengenali satu sama lain. Evan memperkenalkan dirinya kepada Louis dengan nama "August Rush" dan mengatakan ia akan memimpin sebuah orchestra dan tampil di Central Park, dan mengatakan penampilannya ini terancam batal karena Wizard tidak setuju. Louis memberikan semangat agar Evan tetap tampil pada pertunjukan itu, "Come on. Be brave. You never quit on your music. No matter what happens. Coz anytime something bad happens to you, that's the one place you can escape to and just let it go. I learned it the hard way. And anyway, look at me. Nothing bad's gonna happen. You gotta have a little faith. ".

Ternyata pertunjukan di Central Park itu juga menampilkan sang ibu, Lyla Novacek yang bermain Cello bersama The New York Philharmonic. Di sebuah pertunjukan music, keluarga yang terpisah itu bersatu. Harapan Evan sang komposer cilik itu tercapai, bahwa dengan music ia dapat memanggil kedua orang-tuanya untuk datang dan menemukannya. Film garapan sutradara perempuan asal Irlandia Kirsten Sheridan ini pasti akan menggugah emosi para ibu. Bersiaplah tersenyum juga menangis haru dan merasakan betapa penting kehadiran anak dalam keluarga.

Aktor Freddie Highmore tangannya bagus, tangan seorang musisi, dan berperan cemerlang sebagai August Rush ini, mengingatkan kita pada aktor cilik terdahulu Haley Joel Osment yang pernah bermain apik di film The Sixth Sense. Para pecinta music, rasanya juga perlu melengkapi koleksinya karena Soundtrack film ini, Music yang dikemas dengan supervisi Hans Zimmer, Original Score oleh Mark Mancina, didukung beberapa musisi besar, ada Chris Botti, ada John Legend, dll. Juga suara emas dari penyanyi cilik Leon G. Thomas dan Jamia Simone Nash.


Image


August Rush, Best Family Film of the Year. A MUST SEE!



Selamat Paskah!



Blessings,
Bagus Pramono
March 27, 2008

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 19 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron
Powered by phpBB © 2000, 2002, 2005, 2007 phpBB Group  
Design By Poker Bandits | Tweaked by Saxman