Cross-Written Community

Bloody Inspirational Community To Turn Your Life Upside Down
It is currently Sat Jul 31, 2010 5:42 am

All times are UTC + 7 hours


Forum rules


About Culture, Politics, Business, Education, and Science



Post new topic Reply to topic  [ 69 posts ]  Go to page 1, 2, 3  Next
Author Message
 Post subject: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Tue Apr 22, 2008 6:47 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
Ada tulisan menarik :

Senin, 21 Apr 2008

Prancis dan Pahlawan Obor Olimpiade

Oleh : Dahlan Iskan (Jawa pos)


GANGGUAN terhadap obor olimpiade oleh aktivis kemerdekaan Tibet telah membuat rasa nasionalisme rakyat Tiongkok terbakar. Terutama sejak "peristiwa Paris" pekan lalu. Di ibu kota Prancis itu, api yang lagi dikelilingkan dunia tersebut diserang untuk direbut dari tangan gadis cacat yang membawanya di atas kursi rodanya. Ditambah munculnya pernyataan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy yang berencana memboikot pembukaan olimpiade.

Peristiwa itu kontan melahirkan gerakan memboikot Carrefour, jaringan pasar swalayan Prancis di seluruh Tiongkok. Mula-mula berbentuk SMS, lalu internet, dan minggu lalu mulai berwujud demo-demo di depan Carrefour. "Memalukan kalau masih ada yang belanja di Carrefour." Begitu bunyi salah satu spanduk yang mereka bawa.

Dari pembicaraan saya secara informal dengan banyak orang biasa di Tiongkok, mulai dari Beijing dan Tianjin di utara sampai Shanghai di tengah dan Shenzhen di bagian selatan, terekam bahwa kemarahan mereka kepada Prancis sangat menyala-nyala.

Carrefour yang di Tiongkok disebut Jia Le Fu memang berkembang pesat belakangan ini sehingga menjadi simbol kehadiran Prancis yang mencolok di seluruh Tiongkok. Di tiap kota besar selalu ada tiga atau empat Jia Le Fu. Bahkan, kini sudah merambah ke kota-kota sedang dan kecil.
Pembantu saya di Tianjin yang dulu juga biasa belanja di Carrefour ternyata juga sudah tidak mau ke sana. Karena itu, ketika saya tanya apakah yang berbelanja di Carrefour kini menyusut, dia tidak bisa menjawab. "Saya tidak tahu. Saya tidak belanja lagi di Jia Le Fu," katanya. "Saya belanja di Yi Mai De," tambahnya. Nah, pembantu saya yang asli Tianjin pun sudah terbakar emosinya. Yi Mai De adalah mal dan supermarket lokal yang juga sangat besar. Meski tempatnya sedikit lebih jauh daripada Jia Le Fu, toh dia memilih belanja ke sana.

Begitu meluasnya perasaan tidak suka akan sikap Prancis itu membuat orang Prancis yang tinggal di Tiongkok sampai risi. Salah seorang tokoh bisnisnya sampai-sampai menulis di China Daily Rabu lalu, mengimbau agar Barat memahami dengan benar Tiongkok baru yang sudah berbeda dengan 30 tahun lalu.

Dia juga minta Barat untuk realistis karena tuntunan Dalai Lama tidak lagi realistis. Menurut tulisan tokoh bisnis Prancis di Beijing itu, meski Dalai Lama kelihatannya hanya minta otonomi, namun ketika dijabarkan seperti apa otonomi yang dimaksudkan itu, ternyata sampai pada tidak boleh ada tentara Tiongkok sama sekali di Tibet. Juga tidak boleh ada orang suku Han di pemerintahan Tibet. Suku Han adalah suku utama di Tiongkok, yang jumlahnya mencapai 90 persen penduduk Tiongkok. Lebih sulit lagi, yang dimaksud dengan wilayah Tibet adalah bukan hanya daerah otonomi (setingkat provinsi) Tibet sekarang ini, melainkan juga provinsi-provinsi lain di sekitarnya. Misalnya sebagian dari Provinsi Gansu, sebagian dari Provinsi Sichuan, dan keseluruhan Provinsi Qinghai yang sangat luas itu. Wilayah-wilayah yang disebutkan tadi kalau dijadikan satu sama dengan seperempat wilayah Tiongkok sekarang. "Mungkinkah Tiongkok akan memenuhi keinginan seperti itu?" tulisnya.

Tokoh bisnis Prancis lainnya juga menulis bahwa apakah yang jadi aktivis sampai menyerang obor olimpiade itu juga pernah melihat Tibet belakangan ini? Dia menyebutkan, dalam sejarah Tibet, termasuk saat dikuasai beberapa negara asing lainnya, baru sekarang inilah dilakukan pembangunan besar-besaran. Jalan-jalan tol, jalan-jalan kereta api, jalan-jalan pedesaan, dan pertanian dikembangkan dengan sangat mencolok. Termasuk membangun jalan kereta api yang termahal di dunia karena jalan itu harus dibangun di atas lahan yang tingginya lebih dari 4.000 meter. Gangguan terhadap obor olimpiade itu sampai ajakan boikot olimpiade, menurut dia, hanya akan membuat dunia yang sudah keruh akan semakin keruh saja.

Saya jadi ingat bahwa Presiden Hu Jintao adalah orang yang secara emosional juga tidak mungkin mengalah dalam soal Tibet. Presiden Hu ketika muda dulu adalah panglima militer untuk wilayah Tibet sehingga tahu benar kondisi Tibet dan cara mengatasinya. Di awal karirnya sebagai tentara, Presiden Hu adalah orang yang dianggap berhasil memadamkan gejolak terbesar dalam sejarah tuntutan kemerdekaan Tibet. Tidak mungkin ketika Hu justru menjadi penguasa tertinggi di Tiongkok sikapnya akan melunak.

Maka, kalau gangguan terhadap obor itu masih akan terus berlangsung sepanjang perjalanan obor sampai ke pelaksanaan olimpiade, kita bisa membayangkan reaksi rakyat Tiongkok nanti. Keresahan dunia akibat perang Iraq, disusul krisis harga minyak, disusul ancaman krisis pangan (yang oleh ahli diramalkan bisa berkembang sampai mengakibatkan perang antarnegara), dan ditambah dengan krisis keuangan dunia sekarang ini belum dapat jalan keluar. Masih akan ditambah lagi ketegangan akibat politisasi olimpiade tahun ini.

Padahal, obor olimpiade masih akan melintasi beberapa wilayah rawan seperti Jepang dan lalu ketika mampir ke Tibet sendiri. Kita masih terus waswas apa yang akan terjadi, termasuk sampai seberapa jauh nasionalisme rakyat Tiongkok akan tersulut. Teman saya yang sangat sabar seperti Robert Lai saja ikut emosional dalam soal Tibet ini, sampai-sampai kehilangan rasa humornya yang tinggi. Karena itu, ketika dia bertanya kepada saya apakah saya setuju ajakan boikot pada Carrefour, saya jawab dengan humor yang bisa menurunkan tensinya.

"Saya lebih setuju kalau yang diboikot adalah Louis Vuitton. Ini karena harganya yang mahal. Masak satu tas wanita harganya Rp 30 juta," kata saya. Ternyata, dia masih bisa tertawa. Saya lega. "Ya, saya juga setuju. Agar istri saya tidak minta LV," ujarnya. Saya masih terus bercanda padanya. "Mestinya, Anda tidak setuju boikot produk Prancis. Anakmu saja namanya Michelle," kata saya mengenai anaknya yang masih 22 tahun, cantik, cerdas, dan kini sudah bekerja di bagian yang penting bank asing yang berkantor di Singapura. "Dan istrimu sendiri tiap hari bicara dalam bahasa Prancis," tambah saya.

Rakyat Tiongkok begitu bangga menunggu berlangsungnya olimpiade. Bertahun-tahun sudah dibangun sikap untuk menyukseskan olimpiade itu. Tiba-tiba, ketika waktunya hampir tiba, terjadi gerakan pemboikotan. Maka, perasaan nasionalisme mereka seperti dihinakan.
Seorang warga Kota Nanjing Jumat lalu menempuh cara yang unik untuk menggalang nasionalisme Tiongkok itu. Dia pasang iklan berwarna satu halaman penuh, di halaman depan pula. Dia nyatakan perasaan kecewanya dengan membayar iklan yang begitu mahal di Xian Dai Ri Bao.

Seorang sastrawan membuat sajak panjang yang nadanya juga amat kecewa terhadap Barat. Judul puisi itu kira-kira mirip dengan Pertanyaan untuk Rumput yang Bergoyang:

Ketika kami tertutup,
Kau selundupkan narkoba.
Ketika kami buka pasar bebas,
Kau anggap mencuri lapangan kerja.
Ketika kami miskin,
Kau hinakan kami seperti anjing.
Ketika kami maju,
Kau anggap kami ancaman.
Ketika negeri kami terbelah-belah,
Kau ambil satu irisan melonnya.
OK, Lalu kami jadi negara komunis,
Tapi lantas kau benci kami.
Ketika kami menerima kapitalisme,
Kau tetap juga membenci kami.
Ketika penduduk kami 1 miliar,
Kau tuduh kami mau kuasai planet.
Ketika kami galakkan KB,
Kau tuduh kami tidak manusiawi.
Ketika kami miskin,
Kau anggap kami pengemis.
Ketika kami mulai pinjami kau uang,
Kau tuduh kami penambah utang kalian.

Dan masih panjang lagi. Berkali-kali saya membaca puisi itu karena membayangkan juga kurang lebih itulah yang dialami Palestina dan Indonesia dengan demokrasi barunya.
Tapi, di samping menimbulkan kejengkelan yang meluas, gangguan terhadap obor olimpiade di Paris itu juga melahirkan pahlawan. Rakyat Tiongkok kini sangat bangga dan memuja seorang gadis berumur 26 tahun asal Anhui bernama Jin Jing. Gadis cantik ini adalah seorang altet penyandang cacat. Kedua kakinya tinggal separo. Penyakit malignen yang dia derita ketika kecil membuat kakinya harus diamputasi. Meski cacat, semangat gadis ini luar biasa. Dialah yang saat itu membawa obor di atas kursi rodanya.

Ketika obor itu diserang aktivis pro kemerdekaan Tibet, Jin Jing melawan dengan hebat dari atas kursi rodanya. Terjadilah serang-menyerang. Seluruh penyerangnya laki-laki. Dan yang mempertahankan obor adalah seorang gadis cacat di atas kursi roda. Tapi, Jin Jing, atlet nasional penyandang cacat itu, berhasil menyelamatkan obor tersebut. Adegan itu tiap hari, tiap jam, diputar di TV Olimpiade Tiongkok yang selama 24 jam menyiarkan aktivitas di sekitar olimpiade dan olahraga. Momen tersebut juga disiarkan setiap hari oleh TV-TV lain dalam berita dan ilustrasi-ilustrasi yang disisipkan di antara acara-acara TV. Jadilah Jin Jing pahlawan penyelamat obor olimpiade. (*)



---------------------



Negara2 barat sepertinya memunggu moment "Olimpiade Beijing 2008" untuk mempermalukan China dengan membawa jargon "HAM".

Kayaknya orang2 bule ini perlu ngaca, mereka ngapain ke Iraq, negara yang pernah ratusan tahun menjajah negara orang, Perancis notabene mempunyai andil dalam politik apartheid di Afsel.

In fact malah China tidak pernah menajdi "koloni" terhadap negara lain, pernahkah ia mengirim troops ke negara lain, menginvasi negara lain.

China maju, bule bingung :D


monggo diskusi.

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Tue Apr 22, 2008 9:22 pm 
Offline
Forum Admin
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 2:42 am
Posts: 520
Location: Smurf Village
Gue tetep gak demen Republik Rakyat Tiongkok selama mereka belum sepenuhnya menganut demokrasi dan memberikan kebebasan beribadah dan berpendapat kepada rakyatnya.

_________________
Image


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Wed Apr 23, 2008 4:48 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
yup gue juga 'ngga suka sama China, tapi itu dulu
zaman SMA, pikirku ah itu negara dari polosok mana, katro', udik, kampungan, miskin, sadis, wis pokoknya yang jelek2.

eh suatu saat aku dateng tahun 1994 ke Shanghai, wow, aku melihat negara ini mulai berkembang.

kemudian benci lagi sama China, karena tempat kesukaanku harus kembali ke China, yaitu Hongkong. Sehingga waktu itu ada semacam "curiosity" pengen tahu politik luar negeri China. Dan waktu itu menemukan suatu kebijaksanaan yang "extraordinary" buat negara yang pernah aku anggap barbarian dan "katro" ini. Yaitu kebijaksanaannya tentang hukum yang akan diterapkan yaitu "one country, two systems" ( 一國 兩制 ) , suatu otonomi khusus untuk Hongkong dan merupakan suatu kebijaksanaan politik yang monumental yang baru pertama terjadi di dunia.

Tahun 1997 saking pengen tahu penerapan "one country, two systems", di suatu momen bersejarah ini, nyempetin dateng saat Hongkong hand-over, dan mulai saat itu pandanganku kepada China mulai berubah. The New China, raksasa yang baru bangkit!

ini dulu deh...

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Wed Apr 23, 2008 8:30 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Thu Jan 17, 2008 2:02 pm
Posts: 427
Location: Jakarta
sekarang china masih tetep kayak gitu ..
baca donk kisah jun si manusia surgawi

_________________
F1do's Planet
www.f1do.tk
Image


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Wed Apr 23, 2008 8:47 am 
Offline
Forum Admin
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 2:42 am
Posts: 520
Location: Smurf Village
Kalo China bisa kasih otonomi buat Hongkong, kenapa gak buat Tibet?

_________________
Image


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Wed Apr 23, 2008 4:51 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
Jawabnya, saya quote artikel diatas :

Quote:
tuntunan Dalai Lama tidak lagi realistis. Menurut tulisan tokoh bisnis Prancis di Beijing itu, meski Dalai Lama kelihatannya hanya minta otonomi, namun ketika dijabarkan seperti apa otonomi yang dimaksudkan itu, ternyata sampai pada tidak boleh ada tentara Tiongkok sama sekali di Tibet. Juga tidak boleh ada orang suku Han di pemerintahan Tibet. Suku Han adalah suku utama di Tiongkok, yang jumlahnya mencapai 90 persen penduduk Tiongkok. Lebih sulit lagi, yang dimaksud dengan wilayah Tibet adalah bukan hanya daerah otonomi (setingkat provinsi) Tibet sekarang ini, melainkan juga provinsi-provinsi lain di sekitarnya. Misalnya sebagian dari Provinsi Gansu, sebagian dari Provinsi Sichuan, dan keseluruhan Provinsi Qinghai yang sangat luas itu. Wilayah-wilayah yang disebutkan tadi kalau dijadikan satu sama dengan seperempat wilayah Tiongkok sekarang. "Mungkinkah Tiongkok akan memenuhi keinginan seperti itu?" tulisnya.



Sementara tingkat atas otot-ototan soal otonomi, pemerintah China memebrikan kemudahan-kemudahan kepada rakyat Tibet, diantaranya pembangunan jalan/ access melalui kereta-api dari seluruh China ke Tibet. Ini adalah proyek gila dan mahal, proyek ini disebut "By Train on the Roof of the World". Kampanye proyek ini besar2an, ke seluruh China dan Tibet, ada pagelaran panggung seni, ada "theme-song-nya" (lagunya bagus lho, aku punya rekamannya), sdll.

Kalau dulu orang susah mau dari China ke Tibet atau sebaliknya naik onta, lewat padang pasir. sekarang ada kereta super cepat ke Tibet. Perdagangan menjadi maju, ekonomi maju, pendidikan maju herannya "orang barat" tidak menyukai perkembangan ini.

Memang ada satu masa China melakukan "tangan besi", tapi seiring perubahan zaman dan karena ia makin kaya, China mulai menggunakan cara-cara santun untuk merangkul simpati rakyat Tibet.

http://www.chinatibettrain.com/news.htm

Image

Jangan nonton BBC dan CNN doang yang isinya menyudutkan "kemajuan orang Asia", aku lebih demen POENIX atau CCTV.


Bagaimanapun Bule pengen Supremasi Bule.

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Wed Apr 23, 2008 4:52 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=10360

Rabu, 23 Apr 2008,
Haru di Shanghai, Biasa di Jakarta


Catatan
Dahlan Iskan

Adegan ini mestinya mengharukan. Ketua Senat Prancis Christian Poncelet sampai terbang jauh-jauh ke Shanghai untuk meredakan kemarahan rakyat Tiongkok seminggu terakhir ini. Cara yang dilakukan Prancis juga sangat elegan: menemui Jin Jing, gadis cacat berumur 26 tahun yang kini menjadi pahlawan Olimpiade Beijing. Waktu itu Jin Jing mengemban tugas membawa obor Olimpiade yang lagi diarak di Kota Paris. Saat itulah Jin Jing diserang pendemo yang minta kemerdekaan Tibet. Jin Jing, dari atas kursi rodanya, memberikan perlawanan untuk melindungi obor yang dibawanya.

Pertemuan Poncelet-Jin Jing ini sangat menarik. Poncelet yang sudah berumur 80 tahun itu mendatangi Jin Jing yang duduk di kursi roda. Poncelet merangkul sayang gadis yang ketika kecil harus diamputasi kakinya itu. Lalu mencium pipinya. Setelah itu Poncelet masih meraih tangan si gadis pelan-pelan dan mencium tangan itu. Jin Jing pun menyambut rangkulan itu dengan perasaan penuh persahabatan. Ini terlihat dari ekspresi wajahnya yang tidak menunjukkan sisa kejengkelan sedikit pun.

Karena adegan ini diliput secara luas oleh media setempat, rasanya semua gerakan anti-Prancis yang marak seminggu terakhir ini akan selesai. Apalagi, ketua senat Prancis itu masih menyerahkan sepucuk surat dari orang yang bukan sembarangan: Presiden Prancis Nicolas Sarkozy. Isinya, sang presiden sangat bisa merasakan terusiknya perasaan rakyat Tiongkok. Juga minta maaf atas kejadian itu. Juga mengutuk peristiwa penyerangan terhadap obor Olimpiade yang sedang dibawa Jin Jing itu. Bahkan, Presiden Sarkozy memberikan tawaran kepada Jin Jing untuk kembali ke Paris sebagai teman presiden dan menjadi tamunya.

Cara penyelesaian persoalan ketegangan itu sangat unik. Prancis sebagai negara tidak perlu minta maaf kepada Tiongkok sebagai negara. Itu memang suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Tapi, meminta maaf kepada Jin Jing yang dilakukan Presiden Sarkozy sebagai teman, sangatlah sudah mewakili perasaan rakyat Tiongkok secara keseluruhan.

Bagaimana reaksi Jin Jing? "Saya terserah saja pada pemerintah saya. Tanyakan kepada Menteri Luar Negeri," katanya seperti dikutip semua media di sana.

Prancis kelihatannya memandang sangat serius gejolak yang terjadi di Tiongkok. Maklum, Prancis lagi giat-giatnya ekspansi di Tiongkok. Carrefour saja kini sudah membangun 112 hyparmarket di seluruh Tiongkok. Dalam seminggu terakhir posisi Carrefour babak belur karena didemo di hampir seluruh negeri. Padahal, Carrefour masih akan membangun hypermarket lebih banyak, sebelum jaringan dari Amerika masuk ke sana.

Raksasa makanan-minuman Danone juga lagi sangat agresif. Meski sengketa Danone dengan Wahaha (perusahaan raksasa minuman setempat) belum selesai, sudah ada kemajuan. Masing-masing sudah mencabut gugatan di pengadilan dan sepakat menempuh jalur arbitrase.

Belum lagi proyek raksasa dan prestisius yang baru dimulai tahun lalu dan harus sudah jadi tahun depan: pabrik pesawat terbang Airbus di Tianjin. Pabrik yang akan mampu memproduksi pesawat kelas A320 sebanyak 250 buah setahun itu tidak mungkin dikorbankan hanya gara-gara obor Olimpiade.

Karena itu, selain mengirim ketua senat, Presiden Sarkozy masih mengirim dua utusan tingkat tinggi lagi untuk menemui pejabat tinggi Tiongkok. Bahkan, dalam waktu dekat Perdana Menteri Prancis Francois Fillon juga akan datang ke Beijing.

Melihat intensifnya Prancis memperbaiki hubungan dengan Tiongkok ini, bisa dibaca bahwa Prancis tidak mau "termakan" permainan internasional yang ternyata hanya mengorbankan kepentingan nasionalnya. Prancis kelihatan lebih mementingkan kepentingan nasional daripada memenuhi solidaritas sesama negara Barat.

Di media Tiongkok pekan lalu gencar dipublikasikan analisis seorang ahli geopolitik Amerika Serikat yang membeberkan skenario di balik "permainan rolet Tibet". Di situ diuraikan mengapa USA sangat berkepentingan dengan Tibet yang ternyata, menurut dia, memiliki sumber uranium (bahan untuk nuklir) terbesar di dunia.

Persoalan masih belum sepenuhnya lewat. Obor masih akan ke Australia hari ini. Di sana tidak tertutup kemungkinan terjadi gejolak, mengingat kebiasaan aktivis di Australia yang agresif. Setelah itu obor masih mampir ke Jepang yang juga tergolong sangat rawan berkembang ke persoalan yang peka. Hubungan Tiongkok-Jepang bisa naik turun secara tajam dan mendadak.

Bahkan, obor itu juga masih akan dikelilingkan Tibet, rasanya tidak akan menimbulkan persoalan. Kontrol pemerintah pusat atas keamanan Tibet kini dilakukan secara ketat.

Lalu, bagaimana pemberitaan di Tiongkok mengenai mampirnya obor Olimpade di Jakarta? Saya lihat biasa-biasa saja. Tidak hebat tapi juga tidak jelek. Pemberitaan TV dibuat dalam dua segmen. Pertama mengenai dikelilingkannya obor itu di Senayan. Segmen kedua mengenai Kota Jakarta.

Memang disorot juga sambutan hangat masyarakat di sepanjang pinggir jalan yang dilewati obor, tapi tidak mencolok. Teriakan "jia you!" berkali-kali memang terdengar dari para penyambut itu, tapi tidak terlalu meriah. Tarian tradisional Jakarta juga ditampakkan. Juga wajah ibu-ibu cantik yang ikut mengibarkan bendera RI dan Tiongkok.

Tapi, dibanding liputan ketika obor itu berada di Malaysia, kalah jauh. Di Malaysia sambutan lebih meriah. Bahkan, dapat kesan khusus yang sangat sukses dari media Tiongkok.

Sayang memang, kita tidak bisa memanfaatkan kedatangan obor ini untuk kepentingan nasional kita secara luas. Saya kira pemerintah terlalu takut terhadap demo-demo yang akan mengganggu obor itu. (*)

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Wed Apr 23, 2008 5:17 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 12, 2008 10:15 am
Posts: 88
Gw sebenarnya mo kasih comment, berhubung gw belom pernah ke China, commentnya gw pending dulu :mrgreen:

_________________
Segenggam tindakan nyata
Jauh lebih berharga daripada segunung doa


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Fri Apr 25, 2008 3:33 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 26, 2008 4:31 pm
Posts: 101
Gua rasa, orang2 tibet sudah kalap untuk turun jalan karena ada alasan tertentu,...

makanya gua merasa memang ada yang fishy about how China memperlakukan orang tibet di tanah air mereka sendiri,...

*gua lebih suka ndengerin orang tibet sendiri yang bersuara tentang mereka sendiri,.....*

_________________
Image
:::dwiAgus:::


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Fri Apr 25, 2008 4:22 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 26, 2008 4:31 pm
Posts: 101
ketika orang tibet berteriak ke pemerintah china: "Hei, ada yang salah dengan cara kamu menjalankan negara ini di Tibet, dan ada yagn salah dengan cara kamu memperlakukan orang tibet dan menyejahterakan mereka" ...... apa harus dengan resiko dipenjara dan digebuk,......????

dan kalau itu dikaitkan dengan keinginan bule (USA?) untuk mematahkan supremasi China dan mendorong supremasi bule ,...... gua rasa itu malah mencoba melenceng dari isue tibet sebenarnya, which is HUMANITY .....

Seolah-olah: ketika kita kaum minoritas di Indonesia berteriak ada pelanggaran HAM terhadap kaum minoritas, apa lantas itu tanda kita jadi alat bule untuk menegakkan supremasi mereka dengan bawa bendera HAM.... kok aneh logikanya?

_________________
Image
:::dwiAgus:::


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Fri Apr 25, 2008 4:29 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 26, 2008 4:31 pm
Posts: 101
SarapanPagi wrote:
In fact malah China tidak pernah menajdi "koloni" terhadap negara lain, pernahkah ia mengirim troops ke negara lain, menginvasi negara lain.
.

quote:
After the Dalai Lama's title's had been restored in November 1908 and he was about to return to Lhasa from Amdo in the summer of 1909, the Chinese decided to send military forces to Lhasa to keep control over him. The Dalai Lama once again fled, this time to India, and was once again deposed by the Chinese.

Tibet mendeklarasikan kemerdekaannya thn 1912, dan dibarengi aneksasi TIbet oleh Pemerintah Komunis China.... bukankah begitu?
dan bukankah sejarah mencatat ada invasi china tahun 1951, ke tibet,.....

monggo dikoreksi

_________________
Image
:::dwiAgus:::


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Sat Apr 26, 2008 12:08 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
ada macam2 versi cerita, dari pihak mana?

saya kasih satu coktoh kasus yang nggak jauh2 : Indonesia "menjajah" TIMTIM! Indonesia mengirim tentara dan membunuhi Fretilin dan Rakyat Tim-tim. Atas sponsor barat, kemudian rakyat timtim kemudian mendeklarasikan kemerdekaannya.
Benarkan Indonesia "menjajah"?, dengan melihat kasus yang sebenarnya bisakah dijawab dengan simple yes or no?

Tibet, dia adalan salah satu propinsi RRC (menurut anggapan China), sama aja kayak TAIWAN, sampai sekarang China juga mengklaim Taiwan adalah salah satu propinsi yang mbalelo, bedanya Taiwan lebih kaya aja.

Dalai Lama bukan orang suci, dia cuma pemimpin umat yang memanfaatkan isyu anti-komunisme, anti China, dan sembunyi dibawah ketiak barat.

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Sat Apr 26, 2008 8:00 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 26, 2008 4:31 pm
Posts: 101
Rakyat timtim berhak untuk merasa terjajah kalau memang mereka benar2 terjajah,....
Jadi yah wajib kita dengar mereka,.... kalau rakyat timtim teriak2 merasa terjajah, memang kemungkinan besar ada benarnya,....

begitupula dengan rakyat tibet,...... kalau mereka merasa terjajah, dan teriak2 ke jalan,.. .kenapa harus digebuki, dipenjara, diculik, dibunuh,... aneh.

dalai lama memang bukan orang suci, tapi dia tahu apa itu rasanya terjajah,..... sehingga tahu apa arti perjuangan melawan perlakuan yang melanggar HAM, .....
mendingan daripada orang2 gereja kristen yang sibuk dibalik gedung gereja, gak peduli sama segala ketiak adilan diluar tembok sana....
dan karena HAM ini universal ,tak heran banyak yang mendukung,.. tapi bukan berarti biksu2 berlindung di balik ketiak barat.
aneh, kesimpulan ngawur dan grusak grusuk..

kenapa harus diasosiasikan merembet ke barat? emang mereka lari ke amerika doang? wong banyak ke india,.... dan negara2lain di asia juga banyak memberi perlindungan dan dukungan,.....
emangnya dia antikomunisme? toh dia sudah menawarkan otonomi khusus,......
tapi gak dianggap, dan dianggap provokator,......
dialog macam apa itu???

_________________
Image
:::dwiAgus:::


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Sat Apr 26, 2008 8:22 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 26, 2008 4:31 pm
Posts: 101
ini gua kutip suatu parapgraph menarik, sebelum kita menyimpulkan secara sembrono dalailama itu memanipulasi isue anti komunisme dan anti china....

"Coba anda perdalam dulu dimensi spiritualitas Buddha Dalai Lama dan
kaitannya dengan masalah demografis dan perkara desakan sosial
pemerintah Cina dalam memberangus kebebasan beragama yang
serampangan tanpa memperhatikan aspek sosiologis tradisi Buddha
Tibet, dari titik inilah coba dipahami bagaimana awal sengketa mulai
terjadi. Jangan melebar dan ngumbar sejarah kemana-mana yang banyak
menimbulkan penafsiran bias. Cari titik fokusnya."

memangnya ketika sebuah daerah (seperti Timor-Timur, Aceh, Maluku, Papua) berteriak "saya dijajah,.. saya ingin merdeka,..." mereka bukan teriak dengan alasan kosong,....... ada cerita di balik itu,... yang wajib didengarkan, ..dan diberi ruang dialog,...
bukan digebuki, diculik, dan dibunuh,....
seperti yang dilakukan perwira2 TNI kita ketika kerusuhan dili, ketika masa DOM aceh, ....

_________________
Image
:::dwiAgus:::


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Mon Apr 28, 2008 11:33 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  YIM  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 4:17 pm
Posts: 370
kemarin waktu pulang dari gereja, ada salah seorang bapak2 yang baru pulang dari beijing. Dia bilang kasus obor itu sebenarnya ada pihak ketiga yang terlibat, karena sebenarnya Tibet sendiri ga punya masalah ama Tiongkok. mnurut teman2?

_________________
Smurfette was created by Gargamel to destroy the Smurfs.After a successful operation of "plastic smurfery", Papa Smurf transformed the ugly and unhappy Smurfette into the blond bombshell she is today. His magic changed her nature and her hair color. Smurfette loves flowers and the color pink.


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Mon Apr 28, 2008 2:40 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 26, 2008 4:31 pm
Posts: 101
menurut gua sih,....

apabila ada orang teriak2 di jalan protes terhadap suatu keadaan,..
entah itu diprovokasi pihak ketiga, atau tidak
entah itu mewakili semua rakyat atau tidak,
tidak sepatutnya digebuki,dikejar,diculik,disakiti, ditangkapi bahkan dibunuh,...


coba bandingkan juga dengan yang di myanmar,.....
ketika biksu2 turun, apa karena mereka bergerak dengan alasan semu?
dan kenapa harus digebuki dan ditangkapi?

memang negara china adalah negara besar dan kuat,.. semua orang mengakui itu kok,.....
kalau ada masalah begini kok jadi menyalahkan konspirasi pihak ketiga,.... untuk menumbangkan dominasi china,..

mestinya sebagai negara yang besar, dia juga harus berjiwa besar, gak kerdil,.. dan tidak berlaku seperti oran gyang tidak percaya diri,... baru didemo gitu ajah udah seprti itu,.... meradang boleh ajah, tapi jangan korbankan kemanusiaan,...

khan bisa dialogue,.. china bisa introspeksi diri sendiri, pertimbangkan usulan dalai lama yang melunak otonomi khusus,.... khan review lagi kebijakan pembangunan sosial/kultur untuk tibet,..... cari win2 solutionnya,... jangan membungkam masy tebet untuk teriak soal ketidak adilan....

contohnya ajah dengan ACeh,. dengan dialogue kemungkinan untuk damai bisa terjadi,.... bisa memperbaiki kebijakan pembangunannya, dll

_________________
Image
:::dwiAgus:::


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Sat May 03, 2008 1:07 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
Nyanyian Para Mantan Budak di Tibet dan Obor Olimpiade




Dulu, seorang budak dan keturunannya tak pernah menyanyi, budak tak pernah tersenyum. Sampai pada tahun 1950, ada harapan baru, ada satu juta orang budak mulai dibebaskan, dan mereka dapat bernyanyi bersama-sama. Itulah masa lalu yang dialami Basang (巴桑, 1937 - ) seorang penulis perempuan asli Tibet yang selalu aktif mengkounter aksi-aksi yang dilakukan Dalai Lama dan kroni-kroninya.

Di media-media, kita hanya melihat kecaman-kecaman media barat yang memanfaatkan momen perjalanan keliling obor Olimpiade Beijing. Bangsa barat yang notabene mantan para penjajah ini kini berbicara nyaring atas nama HAM. Tibet adalah mantan daerah koloni Inggris, kitapun melihat betapa rakyat Inggris begitu emosional menghadang perjalanan obor di London sepanjang 53 Km, dikerumuni para demonstan dengan bebagai macam caci-maki. Seolah lupa mereka sendiri dan "teman-temannya" melakukan apa (?) misalnya di Iraq, dan di negara-negara lain sampai sekarang dengan dalih "perdamaian" dan bertindak sebagai "polisi dunia".

Image Ada kisah menarik yang sering "diabaikan" oleh media-media barat, suatu kenyataan yang pernah terjadi berabad-abad di Tibet, yaitu perbudakan. Bagaimana kaum elite, kaum tuan tanah, para Lama mengambil keuntungan-keuntungan dari manusia dengan kasta terendah ini, yang terjadi dalam sistem kebudayaan, kehidupan spiritual dan sejarah panjang perbudakan yang pernah terjadi di Tibet. Dibawah ini saya kutip interview wartawan TV Phoenix-Hongkong dengan Basang (巴桑), yang ditayangkan 30 April 2008. Basang terlahir dari keluarga budak di daerah Gonggar – Shannan. Ketika lahir ia dinamai "Galsang" yang artinya "beruntung", kedua orang tuanya menjadi budak dari keluarga kaya di Lhasa.

Image Di sebelah adalah sebuah contoh foto seorang budak perempuan berusia 35 tahun, terlihat seperti orang yang berumur 65 tahun. Budak di Tibet tidak pernah ada kesempatan untuk bebas. Mereka rata-rata mati pada umur 40-an, orang yang terlahir dari kaum budak selamanya akan menjadi budak. Dahi seorang budak, sama kasarnya dengan telapak kakinya, karena setiap kali berada di hadapan tuannya, budak itu harus menyembah tuannya dengan membenturkan dahinya ke tanah. Budak hanyalah alat, tidak ada HAM, budak lebih rendah dari anjing. Budak tidak mempunyai harta, baju yang melekat di badannya, itulah hartanya. Bahkan ada istilah dalam bahasa lokal : "Budak hanya dapat membawa bayangannya dan meninggalkan bekas telapak kakinya, itulah hartanya budak".

Ketika berumur 16 tahun, Basang mulai sadar, ia mulai bisa melihat realita sekelilingnya, bahwa terlahir sebagai budak tidak akan mungkin bebas dari perbudakan. Berkali-kali Basang ingin mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri di Sungai Lhasa. Yang pertama, ketika hendak bunuh diri, ia teringat orang-tua dan saudara-saudaranya, kemudian ia mengurungkan niatnya. Namun hidup terasa semakin berat ia kembali mencoba bunuh diri di tempat yang sama. Ketika ia hendak menceburkan dirinya ke sungai itu untuk yang ke-dua kali, ia mendengar ada sekelompok orang menyanyi di seberang sungai sana, dan orang-orang yang menyanyi itu adalah para budak yang baru saja mendapat kebebasan. Budak-budak tidak akan pernah menyanyi, ia hanya akan menyanyi ketika ia bebas.

Basang ingin mengikut mereka, tapi ia takut pada Tentara Pembebasan (The People's Liberation Army, PLA), walaupun ia pernah mendengar bahwa Tentara Pembebasan ini kabarnya mereka menolong para budak dan orang miskin. Tetapi ia masih takut, bahwa jika ia ditemukan tentara pembebasan, ia nanti akan dikembalikan kepada tuannya, dan ia nanti akan disiksa dan dihukum. Lalu ia berjalan tak tentu arah selama 6 hari, tanpa bekal, tubuh hanya berbalut sepotong cawat dan atasan compang-camping. Kemudian ia sampai di sebuah pangkalan udara di Tibet, ia ditemukan oleh tentara Pembebasan yang sedang memperbaiki peralatan-peralatan disana. Tentara itu bertanya kepadanya "siapa namanya?" Gadis dengan nama asli "Galsang" itu mengubah namanya menjadi "Basang" (nama "planet Venus" dalam bahasa Tibet berarti "the brightest star"), ia melakukan ini karena ia takut dikembalikan kepada majikannya dan dihukum. Namun tentara itu tidak mengembalikan gadis budak itu ke majikannya, sebaliknya, ia bersama-sama dengan para budak-budak lainnya dikirim ke Shanghai untuk mendapatkan pendidikan. Sejak itulah gadis ini dipanggil dengan nama "Basang" sampai sekarang.

Perubahan namanya menjadi "Basang" itu sekaligus mengubah nasip hidupnya. Ketika masuk dalam pendidikan, Basang seperti balita yang baru belajar bicara, ia buta han-yu oral maupun tulis, dengan semangat yang luar biasa dan sekaligus menikmati kebebasannya dari perbudakan ia begitu antusias menyerap semua pengajaran dan pendidikan yang didapatkannya dari pemerintah China kala itu. Setiap hari ia menghafal huruf-huruf kanji, dan menghafal artinya. Tahun 1956 di Tibet terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Lama, kemudian tahun 1957 Basang dikirim kembali ke tempat asalnya di Lhasa untuk membantu rakyat Tibet kasta rendah dan orang miskin untuk mendapat pendidikan disana. Pada saat itu Basang belum fasih betul Han-yu, ia baru mengenal huruf yang terbatas dan baru menguasai pin-yin (cara membaca huruf kanji), sembari mengajar ia tetap belajar. Ia ingin menjadi guru yang baik dan mengangkat derajat kaumnya agar tidak akan pernah lagi mengalami penindasan. Tahun 1959 Basang menyelesaikan pendidikannya, ia lulus sekolah dengan nilai yang bagus, ia menetap kembali di Tibet. Ia sudah berubah menjadi seorang perempuan yang berpendidikan dan berbudaya, ia bergabung pula dengan kelompok Democratic Reform, kemudian ia menjabat sebagai the deputy head of Nang County pada tahun 1960, karirnya terus menanjak pada tahun 1970 ia menajdi the deputy secretary of the Party Committee of the Tibet Autonomous Region.

Anda bisa bayangkan apa pandangan kaum borju dan para Lama di Tibet, melihat karir Basang si mantan budak ini menjadi seorang perempuan yang sama sekali berbeda. Bersamaan dengan kenyataan itu, ada banyak sekali Basang-basang lain yaitu kalangan mantan budak lainnya yang menjadi dokter, tekhnisi, guru, pengacara, artis yang tidak lagi hidup lebih rendah daripada binatang. Mereka telah menjadi majikan bagi dirinya sendiri, mereka tidak lagi hidup dalam ketakutan dan harus tunduk kepada majikan, mereka telah menentukan nasip sendiri, mereka menjadi manusia-manusia sepenuhnya.

Sebagian besar rakyat Tibet lebih memilih China daripada penguasa lama Tibet, ini karena mereka dari kaum miskin dan kaum budak, dan nyatanya Tentara Pembebasan membebaskan mereka sehingga system perbudakan itu tidak ada lagi di Tibet. Segolongan orang kaya dan elite yang pernah menikmati system perbudakan di Tibet tentu saja membenci China, karena "hak-hak privilege" mereka sebagai kaum elite terhapus. Basang, dalam pandangannya dengan merujuk kepada nasip yang pernah menimpanya, mengatakan dengan tegas bahwa The Democratic Reform-lah yang membawa pencapaian HAM bagi para mantan budak. Mereka sepenuhnya menjadi orang-orang yang merdeka. Satu juta orang mantan budak karena pembebasan semuanya dapat menyanyi. Basang-basang yang lain pun senantiasa dapat bernyanyi, dan mereka menyanyi dengan merdu, nyanyiannya selalu menjadi tanda kebebasan mereka dari perbudakan, silahkan simak suara Basang yang lain di http://youtube.com/watch?v=c_Q4rfMI3h8&feature=related

Image Sejauh ini pula Tibet berkembang menjadi suatu daerah yang lebih maju, orang yang berpendidikan yang dulunya dari kalangan rendah menjadi lebih banyak dan selalu bertambah. Pembangunan infrastruktur, institusi pendidikan, rumah sakit, dll. Tentu saja ada kalangan-kalangan "borju" yang masih merindukan zaman keemasan mereka, berlindung di balik negara-negara barat mereka meneriakkan HAM. Tentu saja "HAM" mereka sebagai seorang mantan-"majikan" terinjak-injak karena mereka tidak lagi diberi kesempatan lagi menganiaya dan dan mempergunakan budak-budaknya sekehendak hatinya. Kalau sekarang para Lama di Tibet berteriak tentang HAM, tidakkah mereka menengok sejarah bahwa para Lama juga menjadi bagian elite dalam masyarakat Tibet yang tutup mata bahkan ikut menindas dan mempergunakan keringat dan jerih payah kaum budak?. Tentara Pembebasan memang dalam satu sisi "melaggar hak istimewa" kaum borju Tibet, tetapi di sisi lain Tentara Pembebasan ini menjadi pahlawan yang nyata di mata para budak. Pemerintah China, senantiasa memperbaiki sistem pemerintahan, pembangunan dan hubungan pusat dengan daerah ini. Pemerintah China telah menyelesaikan suatu mega proyek yaitu pembangunan jalan kereta api menuju Tibet, satu-satunya di dunia, The Qinghai - Tibet Railway "road to heaven", jaringan kereta api ini dibangun di ketinggian 4.000 meter diatas pemukaan laut dan orang juga menyebutnya "By train on the roof of the world". Ada daerah-daerah tertentu dimana ketika menaiki kereta ini harus menggunakan masker oksigen. Kalau dulu orang susah sekali melakukan perjalanan dari dan ke Tibet, sekarang ada kereta super cepat ke Tibet. Perdagangan menjadi maju, ekonomi maju, pendidikan maju, sebaliknya ada juga pihak-pihak yang tidak menyukai perkembangan ini.

Kita, mungkin dapat saja mengatakan bahwa penayangan kisah hidup dari Basang ini adalah upaya China untuk mendapat nama baik, atau bagian dari propaganda China untuk menempatkan diri sebagai negara yang justru membela HAM. Sebagai pengamat dari luar, China dan Tibet, tentu saja kita tidak boleh melihat satu sumber pemberitaan-pemberitaan yang berasal dari "Barat" saja, dan ikut-ikutan menjadi apriori kepada China secara sepihak. Bagaimanapun barat adalah barat, ada supremasi "Barat", yang selalu ingin diatas orang-orang Timur. Ada banyak orang barat yang "was-was" akan kebangkitan bangsa-bangsa Timur.

Sejumlah aktivis pro Dalai Lama di negara-negara Barat berulang kali mencoba merebut Obor Olimpiade. Sejak kekacauan pada perjalanan Obor Olimpiade di London, kemudian di Paris, terjadi "drama perampasan" dari tangan para pembawa obor. Gadis catat Jin Jing (26 tahun) yang membawa obor Olimpiade diserang oleh beberapa pendemo yang semuanya laki-laki. Jin Jing, dari atas kursi rodanya, memberikan perlawanan untuk melindungi obor yang dibawanya. Insiden ini menimbulkan kemarahan rakyat China, mereka menyerukan pemboikotan untuk tidak belanja di jaringan toko retail (hypermarket) Carrefour. Atas insiden memalukan, merebut obor dari orang cacat ini, dan reaksi keras rakyat China. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang sebelumnya juga pernah menyerukan pemboikotan Olimpiade Beijing. Akhirnya pemerintah perancis mengirim utusan khusus, yaitu Ketua Senat Prancis Christian Poncelet untuk secara khusus meminta maaf dan menemui Jin Jing.

Ketegangan terjadi akibat politisasi olimpiade tahun ini terutama di sejumlah negara-negara barat, dan ada ketimpangan-ketimpangan pemberitaan akan Tibet. Contohnya kemarin tanggal 1 Mei 2008, di media-media diberitakan bahwa api olimpiade akan dibawa naik ke puncak gunung Everest yang berketinggian 8.850 meter, oleh pendaki-pendaki kelas dunia, dan diliput wartawan-wartawan pilihan sebagai saksi, ini kejadian yang belum pernah ada di dunia. Semenjak pasca kerusuhan di Tibet, berita-berita dari barat, BBC terutama masih terus melakukan provokasi, berteriak nyaring akan adanya pelanggaran HAM pada rakyat Tibet. Namun, BBC dengan tidak jujur menayangkan gambar-gambar demontrasi anti China oleh para rohaniawan Tibet yang sudah berlalu (usang) "demo pelanggaran HAM" seolah-olah kerusuhan itu masih terjadi di Tibet. Padahal yang disebut-sebut "melanggar HAM" oleh pers "barat" ini adalah tindakan memadamkan kerusuhan yang dibuat oleh pasukan khususnya Dalai Lama. Negara apapun ketika menghadapi kerusuhan di dalam suatu demontrasi, mereka akan mengangkap orang-orang yang menjadi provokator atau pemicu kerusuhan itu. Dalam penayangan peringatan Mayday (hari buruh 1 Mei), kita juga dapat melihat siapapun yang berbuat onar dalam suatu demonstrasi ditangkapi oleh polisi. Dan hal "sama" itulah yang terjadi, kerusuhan di Tibet tidak dilakukan oleh rakyat Tibet, tetapi dilakukan oleh pasukan luar atas kemauan Dalai Lama. Sejak tahun 1960an Dalai Lama mempunyai pasukan khusus yang dilatih pihak luar.

Entah mengapa BBC begitu "membenci" China, barangkali mereka masih mengingat jaman keemasan menjajah negara-negara Asia di masa lalu, dan kemudian merasa China merebut Tibet dari tangannya. Sementara kalau melihat TV local semisal CCTV yang ada justru penyambutan-penyambutan obor olimpiade yang akan segera datang. Ada pagelaran seni dari rakyat Tibet di Lhasa untuk menyambut 100 hari akan tiba diadakannya Olimpiade di Beijing. Sumber yang lebih "netral" Phoenix juga menayangkan yang sama gambar terbaru ini, mereka menyanyi, menari bersuka-cita, tak ada lagi kerusuhan.

Sebagai orang Asia, kita perlu untuk salut kepada China, karena dengan diadakannya Olimpiade di Beijing ini -- dalam kurun waktu 72 tahun -- baru di tahun 2008 ini Obor Olimpade diarak di banyak negara-negara di Asia, melalui Thailand, Malaysia, Indonesia, dll. Kita bersama telah melihat bahwa tanggal 22 April 2008 kemarin adalah untuk pertama kalinya Olympic Torchbearer melewati Indonesia sejak Indonesia merdeka. Tahun 2000 yang lalu, Olympiade diselenggarakan di Sydney-Australia. Negara Indonesia sebagai contoh "tidak ditengok" oleh penyelenggara Olimpiade Sydney meskipun Indonesia dan Australia saling bertetangga. Sementara itu, China yang jauh, menempatkan Indonesia dan negara-negara Asia lain, sebagai sesama bangsa Asia layak untuk dilalui Obor Olimpiade. Dan pada tahun ini obor olimpiade menoreh suatu catatan bahwa Obor Olimpiade itu melalui perjalanan terpanjang dalam sejarah.

Disamping itu, kita sebagai pembaca berita dan pemirsa TV perlu juga memahami dan bersikap realistis karena tuntunan Dalai Lama XIV ini tidak lagi realistis. Meskipun Dalai Lama kelihatannya hanya minta otonomi, namun ketika dijabarkan seperti apa otonomi yang dimaksudkan itu, ia mensyaratkan tidak boleh ada tentara China sama sekali di Tibet. Juga tidak boleh ada orang suku Han menjadi anggota di pemerintahan Tibet (Suku Han adalah suku utama di China, jumlahnya mencapai 90%). Terlebih lagi, Dalai Lama juga menuntut wilayah Tibet adalah bukan hanya daerah Tibet sekarang ini, melainkan juga provinsi-provinsi lain di sekitarnya, yaitu sebagian dari Provinsi Gansu, sebagian dari Provinsi Sichuan, dan keseluruhan Provinsi Qinghai. Wilayah-wilayah yang disebutkan tadi jika dijadikan satu itu setara dengan seperempat wilayah China sekarang. Mungkinkah keinginan ini dikabulkan pemerintah pusat?.

Dalai Lama adalah pemimpin, dan seorang rohaniawan. Jikalau memiliki kuasa ia akan memimpin dengan sistem theokrasi, sistem yang sebelumnya pernah terjadi dimana disana juga ada perbudakan. Kitapun tidak dapat terlalu naif melihat "kesalehannya dalam beragama" lalu memandang bahwa dia "pasti tidak berdosa", ataupun menganggap "dia pasti benar". Umberto Eco, penulis fenomenal buku "The Name of the Rose" yang membuka borok para rohaniawan, dan ia menyajikan suatu hal yang patut kita simak bersama bahwa : "Kejahatan bisa muncul dari kesalehan". Dalai Lama janganlah dijadikan sebagai sumber utama untuk menimba kebenaran dalam berita dan menilai penindasan-penindasan yang digembar-gemborkan para Lama asal Tibet ini. Kisah-kisah rakyat jelata Tibet dari seorang perempuan yang bernama Basang ini patutlah juga kita jadikan sebagai pertimbangan, kecuali kalau Anda menganggap bahwa Dalai Lama adalah "dewa" yang tidak pernah salah.

Akan selalu terjadi yang mana para pemimpin-pemimpin (walaupun komunis) yang telah membebaskan rakyatnya dari liang perbudakan akhirnya "memperbudak" juga "dengan cara yang lain". Selanjutnya, Anda dapat mengkajinya sendiri…



Blessings,
Bagus Pramono
May 2, 2008

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Sat May 03, 2008 1:09 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
Artikel terkait :

- Tibet WAS, IS, and ALWAYS WILL BE a part of China http://www.youtube.com/watch?v=x9QNKB34 ... re=related

- Tibet: By Li Ao (Taiwanese Historian), di http://www.youtube.com/watch?v=-cQ5lZki ... re=related

- CCTV9 Documentary on Lhasa, Tibet, China Riots (Part 1 of 2) di http://www.youtube.com/watch?v=4Z_prFMR ... re=related

CCTV9 Documentary on Lhasa, Tibet, China Riots (Part 2 of 2) : http://www.youtube.com/watch?v=MiVunJBI ... re=related

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Sun May 04, 2008 9:21 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 26, 2008 4:31 pm
Posts: 101
Dari segi nada tulisan (Bagus Pramono itu), pilihan diksi dan absennya referensi yang absah, sudah jelas terlihat bahwa tulisan di bawah ini adalah sebuah opini pribadi, bukan data andal.

Dari segi substansi argumentasi, apapun alasannya, tak dibenarkan satu negara melakukan invasi dan pencaplokan atas teritori independen yang bukan haknya, apalagi dengan memakai kekuatan militer. Jika argumen tulisan di bawah ini dituruti, maka Belanda juga bisa dibenarkan menjajah Indonesia sampai seratus tahun dengan alasan karena kerajaan-kerajaan di Nusantara pada masa itu melakukan pratik perbudakan.

Tibet diserbu Cina tahun 1951. Mao Tze Tung mencetuskan Revolusi Kebudayaan tahun 1950, yang memakan korban banyak nyawa orang Cina dan menghancurkan sendi-sendi masyarakat Cina. Berdasar ini, maka pertanyaannya adalah apakah RRC (atau para pendukungnya di milis ini) punya hak moral untuk meng-klaim bahwa dirinya punya superioritas nilai moral atas Tibet, yang dituding melakukan "perbudakan" itu?

_________________
Image
:::dwiAgus:::


Last edited by JED-ReVoLuTiA on Mon May 05, 2008 11:27 am, edited 1 time in total.
dirapihkan


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Mon May 05, 2008 12:21 am 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
dwiAgus wrote:
Dari segi nada tulisan (Bagus Pramono itu), pilihan diksi dan absennya referensi yang absah, sudah jelas terlihat bahwa tulisan di bawah ini adalah sebuah opini pribadi, bukan data andal.

Dari segi substansi argumentasi, apapun alasannya, tak dibenarkan satu negara melakukan invasi dan pencaplokan atas teritori independen yang bukan haknya, apalagi dengan memakai kekuatan militer. Jika argumen tulisan di bawah ini dituruti, maka Belanda juga bisa dibenarkan menjajah Indonesia sampai seratus tahun dengan alasan karena kerajaan-kerajaan di Nusantara pada masa itu melakukan pratik perbudakan.

Tibet diserbu Cina tahun 1951. Mao Tze Tung mencetuskan Revolusi Kebudayaan tahun 1950, yang memakan korban banyak nyawa orang Cina dan menghancurkan sendi-sendi masyarakat Cina. Berdasar ini, maka pertanyaannya adalah apakah RRC (atau para pendukungnya di milis ini) punya hak moral untuk meng-klaim bahwa dirinya punya superioritas nilai moral atas Tibet, yang dituding melakukan "perbudakan" itu?



Kali ini saya memang menulis hal yang "tidak populer" at least di mata kebanyakan dari kita.

Tapi, membaca dan menonton berita2 yang hanya bersumber dari media2 barat itu tidak cukup. Perlu ada balance dari sumber yang bersangkutan. Apakah kita hanya mau membaca "tuduhan2" saja dan menutup diri membaca "pembelaannya"?
Dalam persidangan ada jaksa dan pembela yang keduanya didengar oleh Hakim. Anda dan saya hakim, apa mau dengar dakwaan jaksa saja?
Tentang Media-media barat yang timpang dalam pemberitaan, silahkan klik tulisan di http://kaskus.us/showthread.php?t=797270

Ttg tulisan "yang tidak populer" ini, saya tidak sendirian, lihat lagi tulisan CEO Jawa Pos Dahlan Iskan, seorang Bumiputera ("non-Chinese") berceritera ttg The New China. Silahkan juga meng-google tulisan2 beliau yang lainnya ttg China.


China menjajah Tibet? Inggris yang pernah menjajah Tibet, jadi persamaan Belanda dan China sebagai penjajah tidak relevan. Inggris dan Belanda lah sama-sama negara penjajah.

Tahukah Anda bahwa Tibet adalah bagian integral dibawah pemerintah China sejak dinasti Ming?
lihat : http://kaskus.us/showthread.php?p=28325574#post28325574 tentang TIBET FACT

Sebelum China membebaskan Tibet 1950, Tibet bukan Surga. Tahukah Anda bahwa sebelum itu banyak pertempuran terjadi di Tibet, yang dilakukan sesama orang Tibet? Tibet saat itu adalah salah satu wilayah yang mempraktekkan perbudakan. Contoh yang paling baik adalah para bangsawan jika ingin naik kuda akan memakai badan budaknya sebagai tumpuan! Inikah "surga" yang kemudian perlu dikembalikan asalnya?

Jika Dalai Lama memerintah, akan menjalankan sistem pemerintahan Theokrasi. Dalam pemerintahan Theokrasi, selalu memanfaatkan "kesalehan dan ketaatan" terhadap agama untuk menindas rakyat, ini akan mirip Eropa di abad pertengahan, atau Taliban di Afganistan.
Selama ini di Tibet tidak ada kegiatan agama dan budaya yang dilarang, kecuali sistem pemerintahan theokrasi dan sistem perbudakan yang dilarang comeback.


Blessings,
BP
May 4, 2008

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Mon May 05, 2008 4:14 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 26, 2008 4:31 pm
Posts: 101
Historical Status
Among the historical claims to Tibetan sovereignty, supporters note that during the Yuan Dynasty, it was the Mongols who conquered Tibet, not the Chinese, and that the Mongols administered Tibet and China separately and very differently, allowing the Tibetans much greater autonomy.

Furthermore, Tibet was independent for almost 300 years after the fall of the Mongol Empire, from 1349 to 1642, during which time Ming Dynasty nominally granted titles to certain Tibetan officials but effectively exercised no control over Tibetan affairs or over the composition of the Tibetan government.

Although supporters concede Chinese influence increased during the Qing dynasty, they point out that Tibet waged war against Jammu in 1841-1842 and with Nepal in 1854-55 without Chinese assistance, an indication of effective sovereignty.

The view of the Tibetan Government-in-Exile

In 1959, the 14th Dalai Lama fled Tibet and established a government in exile at Dharamsala in northern India. This group claims sovereignty over various ethnically or historically Tibetan areas now governed by China. Aside from the Tibet Autonomous Region, an area that was administered directly by the Dalai Lama's government until 1951, the group also claims Amdo (Qinghai) and eastern Kham (western Sichuan). About 45 percent of China's ethnic Tibetans live in the Tibet Autonomous Region, according to the 2000 census. Prior to 1949, much of Amdo and eastern Kham were governed by local rulers and even warlords.[citation needed]

"During the time of Genghis Khan and Altan Khan of the Mongols, the Ming dynasty of the Chinese, and the Qing Dynasty of the Manchus, Tibet and China cooperated on the basis of benefactor and priest relationship," according to a proclamation issued by 13th Dalai Lama in 1913. The relationship did not imply "subordination of one to the other." He condemned the Chinese authorities for attempting to colonize Tibetan territory in 1910-12. "We are a small, religious, and independent nation," the proclamation states.

The view of the current Dalai Lama is as follows:

“ During the 5th Dalai Lama's time [1617-1682], I think it was quite evident that we were a separate sovereign nation with no problems. The VIth Dalai Lama [1683-1706] was spiritually pre-eminent, but politically, he was weak and disinterested. He could not follow the Vth Dalai Lama's path. This was a great failure. So, then the Chinese influence increased. During this time, the Tibetans showed quite a deal of respect to the Chinese. But even during these times, the Tibetans never regarded Tibet as a part of China. All the documents were very clear that China, Mongolia and Tibet were all separate countries. Because the Chinese emperor was powerful and influential, the small nations accepted the Chinese power or influence. You cannot use the previous invasion as evidence that Tibet belongs to China. In the Tibetan mind, regardless of who was in power, whether it was the Manchus, the Mongols or the Chinese, the east of Tibet was simply referred to as China. In the Tibetan mind, India and China were treated the same; two separate countries. ”

The International Commission of Jurists concluded that from 1913 to 1950 Tibet demonstrated the conditions of statehood as generally accepted under international law. In the opinion of the commission, the government of Tibet conducted its own domestic and foreign affairs free from any outside authority, and countries with whom Tibet had foreign relations are shown by official documents to have treated Tibet in practice as an independent State.

The United Nations General Assembly passed resolutions urging respect for the rights of Tibetans in 1959, 1961and 1965. The 1961 resolution asserts that "principle of self-determination of peoples and nations" applies to the Tibetan people.

The Tibetan Government in Exile views current PRC rule in Tibet as colonial and illegitimate, motivated solely by the natural resources and strategic value of Tibet, and in gross violation of both Tibet's historical status as an independent country and the right of Tibetan people to self-determination. It also points to PRC's autocratic policies, divide-and-rule policies, and what it contends are assimilationist policies, and regard those as an example of ongoing Chinese imperialism aimed at destroying Tibet's distinct ethnic makeup, culture, and identity, thereby cementing it as an indivisible part of China. That said, the Dalai Lama has recently stated that he wishes only for Tibetan autonomy, and not separation from China, under certain democratic conditions, like freedom of speech and expression and genuine self-rule. Another view supported by a number of international groups, including the Free Tibet Campaign, is that Tibet should be granted total independence from China.

_________________
Image
:::dwiAgus:::


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Mon May 05, 2008 4:22 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  Profile

Joined: Sat Jan 26, 2008 4:31 pm
Posts: 101
kalau ada sebuah wilayah di sebelah negara kita melakukan perbudakan, ..... dan penduduk di wilayah itu melakukan theokrasi,..... apa itu jadi legitimate reason untuk menyerbunya dan menganeksasi daerah tersebut jadi bagian negara kita..(dan kemudian "menjajahnya")..?

bukankah Dalailama sudah menawarkan Otnomi khusus,.... mencoba mengalah demi "one-china policy"...
tapi kenapa digebukin yak???

yang dipermasalahkan disini gua rasa adalah kebijakan represif yang non-human yang dilakukan chinese government,..
sama ketika negara kita dicabik2 oleh kebijakan represif yang non-human terhadap GAM dan Fretellin,...

kalau masalah tibet bagian china atau bukan, itu udah debat gak abis2nya,....
gua rasa yang diteriakin adalah tindakan melanggar HAM-nya,.......
itu yang kita wajib tidak tutup mata dan wajib teriak2,...

militer kok lawannya biksu,...
militer lawan militer lah,...
sama misalnya kalau TNI lawan militernya GAM,... tapi jangan TNI Lawan masykarakat umum supporter GAM ....

_________________
Image
:::dwiAgus:::


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Mon May 05, 2008 5:34 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
para Lama dianiaya Militer he he... :roll:

Begitulah kalau maunya hanya mendapat info2 dari "barat", saya tiap hari nontoh berita tidak hanya CNN dan BBC. Berita dari barat udah difabrikasi....

Cobalan balance dalam menimba berita.

lihat juga Phoenix, CCTV, Aljazeera, dll

OK buat teman2 yang barangkali tidak langganan TV kabel dan yang tidak "speaking han-yu" dan tidak yang nonton, saya kutip posting sbb :



DARI http://kaskus.us/showthread.php?p=28325574#post28325574

http://kadfly.blogspot.com/2008/03/more-from-lhasa.html

Harder to get photos today as there is a very heavy police/army presence just outside our hotel.

I want to make one thing clear because all of the major news outlets are ignoring a very important fact. Yes, the Chinese government bears a huge amount of blame for this situation. But the protests yesterday were NOT peaceful. The original protests from the past few days may have been, but all of the eyewitnesses in this room agree the protesters yesterday went from attacking Chinese police to attacking innocent people very, very quickly. They appeared to target Muslim and Han Chinese individuals and businesses first but many Tibetans were also caught in the crossfire.


FOTO-FOTO DAN VIDEO BERIKUT NGGA BAKAL NONGOL DI CNN DAN BBC

Image

This motorcyclist, who I assume the protesters identified as Han Chinese, was simply riding up Beijing Street when the video took place. He was not army, not police, not doing anything other than riding his motorcycle.
Video: http://www.youtube.com/watch?v=lFY1j8qs9mk

Image

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Mon May 05, 2008 5:35 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
pemadam kebakaran diserang (tergeletak di tanah)
Image

very disturbing pics
http://img.photobucket.com/albums/v412/dan_li/2342758861_52c6ef3ced.jpg

http://img.photobucket.com/albums/v412/dan_li/2343587360_b97cdca568.jpg

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
 Post subject: Re: Obor Olimpiade Beijing 2008 moment u/ mempermalukan China
PostPosted: Mon May 05, 2008 5:37 pm 
Offline
User avatar
 E-mail  WWW  Profile

Joined: Sun Jan 06, 2008 6:48 pm
Posts: 97
Who Lie about Xizang (Tibet) Violence and How!

Xizang terrorists raided Lasha (Lhasa), they killed more than 10 innocent people and destroyed others' properties. But western media called such a terror a "peaceful" protest. Ridiculous, isn't it?

Many western madia simply say: People died in the protest. This implicitly tells their audience or readers that Chinese government killed protests. Do they dare mention who died? who attacked whom? and who killed whom? Amazing, isn't it?

Other than that, they tortured the facts by using pictures from violence in other countries and commented as what happened in China.

The terror event caused a lot life and property lose for China. But China gained alot.

First of all, Chinese are united now. That's the biggest gain we had in this individualism era. China are still China, we are united before any crisis and enemies. You can see Chinese comments anywhere. Most of them are supporting government. Some are even organizing protesting in Canada and maybe some European countries. This is a very impressive progress.

Secondly, western media's real face is exposed to Chinese and other readers. This is very important for China. Most of us now know western media are simply liar about China. There is no such a media freedom at all. They torture the truth and mislead readers. On the contrary, Chinese media are more reliable knowledge resources. Naive Chinese will not dance with the western propaganda machines any more. Recalling 1989 event when I was a college participant in so-called student movement, Chinese students trusted only western lies. But now, things changed. Chinese students have a clear picture of western propaganda machinese and will think independently. China will be more united and advance without disturbing from outside.

Now, I can show who lie about Xizang (Tibet) violence and how they did. Enjoy the eye-opening pictures for you. You are welcome to copy this images and paste to anywhere.

What the big western media tell show to their viewer

Image

Image

Image

_________________
By what you decide to do everyday, you will be a good man or not


Top
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 69 posts ]  Go to page 1, 2, 3  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron
Powered by phpBB © 2000, 2002, 2005, 2007 phpBB Group  
Design By Poker Bandits | Tweaked by Saxman